Dunia di Ambang Bahaya, Ilmuwan Peringatkan Jam Kiamat Mendekat ke Tengah Malam

0
Jam Kiamat
Ilustrasi Jam bundar hitam putih dengan jarum jam dan jarum menit hampir menunjuk ke angka 12.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Di sebuah ruangan yang hening namun penuh ketegangan, jarum jam simbolik paling menakutkan di dunia baru saja bergeser. Selasa (27/1/2026), sekelompok ilmuwan dari Bulletin of the Atomic Scientists mengumumkan bahwa “Doomsday Clock” atau Jam Kiamat kini berada di posisi 85 detik menuju tengah malam. Angka ini adalah yang terdekat dengan kehancuran umat manusia dalam sejarah modern.

Pergeseran dari 89 detik pada tahun lalu menjadi 85 detik ini bukan sekadar angka. Ia adalah alarm nyaring bagi dunia yang kian retak akibat ambisi nuklir, krisis iklim yang mencekik, hingga ancaman tak kasat mata dari kecerdasan buatan (AI) dan bioteknologi.

Baca Juga :  Pangeran Harry Akan Bersaksi di Pengadilan Tinggi London dalam Gugatan Privasi

Runtuhnya Kesepahaman Global

Para ilmuwan melihat bahwa diplomasi yang selama ini menjadi rem bagi konflik besar kini mulai kehilangan tajinya. Ketegangan antara Rusia dan Ukraina, gesekan nuklir India-Pakistan, hingga memanasnya situasi di Iran pasca-serangan AS-Israel pada musim panas 2025 menjadi latar belakang kelam keputusan ini.

“Kesepahaman global yang dibangun dengan susah payah kini runtuh,” demikian bunyi pernyataan resmi kelompok tersebut, yang menyoroti betapa rapuhnya kerja sama internasional saat ini.

Ketua Dewan Sains dan Keamanan Bulletin of the Atomic Scientists, Daniel Holz, memperingatkan bahwa dunia sedang terjebak dalam pola pikir berbahaya.

“Jika dunia terpecah menjadi pendekatan ‘kami versus mereka’ yang bersifat zero-sum, maka kemungkinan kita semua kalah menjadi semakin besar,” ujar Holz, dilansir dari Newsweek.

Baca Juga :  Hukuman untuk Ilmu Pengetahuan: 5 Ilmuwan Renaisans yang Diburu dan Dihukum

Iklim dan Teknologi: Ancaman yang Terabaikan

Selain bayang-bayang bom atom, para ilmuwan memberikan catatan merah pada kebijakan lingkungan global. Mereka mengkritik tajam langkah Presiden AS Donald Trump yang justru memperluas produksi bahan bakar fosil dan memangkas insentif energi terbarukan sebuah langkah yang dinilai mencederai kesepakatan iklim internasional di tengah bencana kekeringan dan banjir yang makin sering terjadi.

Di sisi lain, perkembangan pesat bioteknologi dan AI dianggap sebagai pedang bermata dua yang bergerak lebih cepat daripada regulasi pengamannya. Para ilmuwan khawatir teknologi ini bisa disalahgunakan sebelum dunia sempat menciptakan “rem” yang memadai.

Baca Juga :  Kerja Tambah Panjang, Upah Tak Selalu Terbilang: Potret Kontras Jam Kerja Indonesia 2025

Warisan Proyek Manhattan

Didirikan pada 1945 oleh para ilmuwan Proyek Manhattan, Jam Kiamat telah menjadi kompas moral dunia selama puluhan tahun. Jika pada akhir Perang Dingin jam ini pernah berada di titik aman 17 menit sebelum tengah malam, kini dunia justru diukur dalam satuan detik yang mendebarkan.

Meski penilaian tahun ini begitu suram, para ilmuwan menegaskan bahwa naskah akhir dunia belum tertulis secara permanen. Jarum jam tersebut masih bisa ditarik menjauh dari tengah malam, asalkan para pemimpin dunia mau menanggalkan ego sektoral dan bertindak secara kolektif untuk meredam ancaman nuklir serta mengendalikan teknologi baru.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com