Dokumen Rahasia Ungkap Rencana Gelap Jeffrey Epstein untuk Akses Aset Libya

0
Jeffrey Epstein
Dokumen rahasia AS bongkar dugaan keterlibatan jaringan Jeffrey Epstein dalam upaya menguasai aset Libya yang dibekukan saat perang 2011.Foto : yahoo.com

NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Tirai kemewahan dan skandal kelam mendiang Jeffrey Epstein, sebuah tabir baru baru saja tersingkap. Dokumen rahasia yang dirilis Departemen Kehakiman AS pada Jumat (30/1/2026) mengungkap sebuah rencana ambisius sekaligus gelap yaitu upaya perburuan harta karun negara Libya yang tengah membeku di tengah kecamuk perang saudara tahun 2011.

Bukan sekadar investasi biasa, skema ini melibatkan jaringan bayangan yang menyeret nama-nama besar dari dunia intelijen hingga firma hukum internasional.

Perburuan di Tengah Kekacauan

Saat Libya membara akibat pemberontakan yang didukung NATO terhadap Muammar Gaddafi, seorang rekan Epstein melihat celah di tengah kepulan asap konflik. Dalam sebuah email bertanggal Juli 2011, pengirim menguraikan potensi keuntungan raksasa dari dana kedaulatan Libya yang dibekukan secara internasional, termasuk US$ 32,4 miliar yang tertahan di Amerika Serikat.

Baca Juga :  Kapal Berisi 60 Migran Terbalik di Libya, Hanya 10 Orang Selamat

Namun, angka yang muncul ke permukaan hanyalah puncak gunung es. Dokumen tersebut mencatat keyakinan pengirim bahwa harta tersembunyi Libya jauh lebih besar dari laporan resmi.

“Dan diperkirakan angka sebenarnya ada di antara tiga hingga empat kali lipat dari jumlah ini dalam bentuk aset kedaulatan, aset yang dicuri, dan aset yang disalahgunakan,” tulis isi email tersebut kepada Jeffrey Epstein sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Strategi Komisi Fantastis

Email tersebut tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga strategi pemulihan aset dengan imbalan yang mencengangkan. Sang pengirim menyusun kalkulasi matematis yang mengubah kekayaan negara yang sedang hancur menjadi komisi pribadi yang masif.

Baca Juga :  Skandal Internasional Mengguncang Dunia: Nama-Nama Terbesar Terdokumentasi dalam Berkas Epstein

“Jika kita dapat mengidentifikasi atau memulihkan 5% hingga 10% dari uang ini dan menerima 10% hingga 25% sebagai kompensasi, kita sedang membicarakan tentang miliaran dolar,” tambah sang pengirim dalam dokumen itu.

Untuk memuluskan rencana ini, dokumen tersebut mengeklaim adanya dukungan dari “tangan-tangan kuat” di dunia spionase. Nama MI6 (Inggris) dan Mossad (Israel) disebut-sebut memiliki anggota yang bersedia membantu mengidentifikasi posisi aset-aset yang raib.

Menjadikan Rekonstruksi Sebagai “Umpan”

Rencana ini tidak berhenti pada pencarian aset yang hilang. Kelompok ini juga mengincar proyek rekonstruksi Libya pasca-konflik sebagai ladang keuntungan jangka panjang. Dengan memanfaatkan cadangan energi Libya yang melimpah dan tingkat melek huruf yang tinggi, mereka berusaha memposisikan diri sebagai orang dalam.

Baca Juga :  Pemerintah Godok Aturan WFH Usai Lebaran 2026, Fokus Efisiensi di Tengah Ketegangan Global

“Namun, umpan yang sebenarnya adalah jika kita bisa menjadi orang kepercayaan mereka karena mereka berencana membelanjakan setidaknya US$ 100 miliar tahun depan untuk membangun kembali negara mereka dan memulihkan ekonomi,” ungkap pengirim dalam email tersebut.

Jaringan yang Meluas

Dokumen ini juga mengonfirmasi bahwa diskusi telah dilakukan dengan sejumlah firma hukum internasional yang bersedia bekerja dengan sistem success fee atau pembagian hasil.

Pengungkapan ini menambah babak baru dalam sejarah kelam jaringan Jeffrey Epstein. Di saat sebuah bangsa berjuang di ambang kehancuran, di sudut lain dunia, sebuah rencana disusun untuk mengeksploitasi sisa-sisa kekayaan mereka demi keuntungan pribadi yang tak terbayangkan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com