Hujan Saat Imlek Dipercaya Bawa Rezeki, Ini Alasannya

0
Ilustrasi hujan. Foto: dok Pinterest

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia kerap berlangsung bersamaan dengan musim hujan. Fenomena ini dipercaya memiliki makna khusus dalam budaya Tionghoa dan sering dikaitkan dengan datangnya rezeki serta keberkahan.

Setiap tahunnya, masyarakat Tionghoa di Indonesia merayakan Tahun Baru Imlek atau Chinese New Year yang jatuh pada bulan Februari dan ditetapkan sebagai hari libur nasional. Mengutip detiknews, Senin (9/2/2026), berdasarkan SKB 3 Menteri tentang Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026 serta Kalender Hijriah Kemenag, Imlek 2026 diperingati pada Selasa, 17 Februari 2026.

Imlek tahun ini kembali bertepatan dengan musim hujan. Langit mendung hingga hujan yang turun menjelang perayaan sudah menjadi pemandangan yang umum terjadi. Bagi masyarakat Tionghoa, kondisi tersebut tidak hanya dipandang sebagai fenomena alam, tetapi juga memiliki makna simbolis yang diyakini secara turun-temurun.

Baca Juga :  Menteri Desa Yandri Susanto Hadiri Penyambutan Santri Baru di Ponpes Bai Mahdi Serang

Secara ilmiah, Imlek memang jatuh pada periode puncak musim hujan di Indonesia, yaitu antara Januari hingga Februari. Namun, dalam kepercayaan Tionghoa, hujan yang turun saat Tahun Baru Imlek dianggap membawa pesan positif.

Mengacu pada informasi dari Universitas Negeri Surabaya, hujan saat Imlek dipercaya sebagai simbol keberkahan, kemakmuran, dan rezeki. Air hujan diyakini mampu menyuburkan kehidupan serta membersihkan energi negatif, sehingga membuka jalan bagi hal-hal baik di tahun yang baru.

Baca Juga :  BPBD Ingatkan Penanganan Lanjutan Usai Dapur Rumah di Bogor Dilanda Angin Kencang

Sejumlah ahli feng shui juga menyebutkan bahwa hujan deras yang turun saat Imlek dianggap membawa keberuntungan bagi wilayah yang diguyur. Kepercayaan ini masih dipegang kuat oleh masyarakat Tionghoa hingga kini. Bahkan, dalam tradisi Imlek terdapat pantangan untuk mengeluhkan hujan, karena hal tersebut dianggap sama dengan menolak keberkahan yang datang dari langit.

Meski sarat dengan makna simbolis, hujan saat Imlek juga dapat dijelaskan secara ilmiah. Kalender lunar-solar yang menjadi acuan penentuan Imlek menempatkan perayaan ini pada akhir Januari hingga Februari, saat curah hujan di Indonesia berada pada tingkat tertinggi.

Berdasarkan arsip informasi BMKG yang dikutip CNBC pada 2025, hujan lebat pada periode tersebut dipengaruhi oleh angin Monsun Asia yang membawa udara lembap dari Benua Asia dan Samudra Pasifik menuju Indonesia melalui angin baratan.

Baca Juga :  Cuaca Ekstrem Melanda Arab hingga Gaza, Warga Diminta Waspada dan Siaga Tinggi

BMKG juga merilis prakiraan musim hujan 2025/2026 yang menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak musim hujan pada Januari hingga Februari 2026. Curah hujan diperkirakan berada pada kategori menengah hingga sangat tinggi, khususnya di wilayah selatan dan timur Indonesia, termasuk Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Dengan demikian, hujan yang kerap menyertai perayaan Imlek di Indonesia bukan hanya fenomena alam, tetapi juga menjadi simbol harapan, keberkahan, dan awal yang baik bagi masyarakat yang merayakannya. (MG5)

Editor : Nathania

Sumber : detiktravel