NARASITODAY.COM, LONDON — Posisi Keir Starmer sebagai Perdana Menteri Inggris kini berada di ujung tanduk setelah pengunduran diri salah satu orang kepercayaannya menyusul skandal besar yang melibatkan dokumen terkait Jeffrey Epstein. Tekanan publik dan internal partai semakin meningkat, memicu spekulasi bahwa masa jabatan Starmer di Downing Street mungkin segera berakhir.
Krisis ini mencapai puncaknya setelah Morgan McSweeney, Kepala Staf Perdana Menteri yang dikenal sebagai arsitek kemenangan besar Partai Buruh pada Pemilu 2024, mengundurkan diri. Kepergian McSweeney dipicu oleh polemik penunjukan Peter Mandelson sebagai Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat yang belakangan terungkap memiliki hubungan sangat dekat dengan Jeffrey Epstein, predator seksual terkenal.
Dalam pernyataannya pada Minggu (8/2/2026), McSweeney mengakui kesalahannya dalam menyarankan penunjukan tersebut. “Keputusan untuk menunjuk Peter Mandelson adalah sebuah kesalahan. Dia telah merusak partai kita, negara kita, dan kepercayaan pada politik itu sendiri. Saat diminta, saya menyarankan Perdana Menteri untuk melakukan penunjukan itu dan saya bertanggung jawab penuh atas saran tersebut,” ujarnya dikutip The Guardian.
Mandelson sendiri sempat mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Duta Besar pada September tahun lalu setelah hubungan dekatnya dengan Epstein mulai terungkap. Namun, baru sekitar 10 hari yang lalu, rilis dokumen-dokumen baru mengungkap fakta yang lebih mengejutkan: Mandelson diduga membagikan rahasia pasar yang sensitif kepada Epstein pada 2008 saat masih menjabat di pemerintahan Partai Buruh sebelumnya.
Sejarawan Inggris Anthony Seldon menilai bahwa pengungkapan tersebut telah menciptakan guncangan besar terhadap integritas politik di London. “Ini kemungkinan merupakan skandal politik terburuk yang pernah dialami Inggris,” katanya.
Ancaman terhadap Kepemimpinan Starmer
Kondisi ini membuat Starmer semakin terisolasi di Downing Street, karena McSweeney adalah salah satu sekutunya sejak awal karier politiknya. Tekanan semakin tinggi setelah pemimpin Partai Buruh di Skotlandia, Anas Sarwar, secara terbuka mendesak Starmer agar segera mengundurkan diri demi kestabilan negara.
“Gangguan ini harus segera diakhiri dan kepemimpinan di Downing Street harus berubah,” tegas Sarwar pada Senin sore waktu setempat.
Meski jajaran kabinet mencoba memberikan dukungan publik, bayang-bayang kejatuhan tetap menghantui. Sejak 2016, Inggris telah dipimpin oleh enam Perdana Menteri berbeda, mulai dari David Cameron hingga Rishi Sunak, dan kini Starmer berpotensi mengikuti jejak para pendahulunya yang lengser akibat tekanan internal dan skandal.
Pengamat politik menyebut fenomena ini sebagai “insting kawanan,” di mana dukungan partai bisa hilang secara cepat jika pemimpin dianggap sudah menjadi beban. Mantan PM Boris Johnson pernah menyampaikan hal ini saat ia dipaksa mundur dari jabatannya pada 2022.
“Insting kawanan itu sangat kuat dan ketika kawanan itu bergerak, ia akan bergerak,” ujar Johnson.
Masa depan Starmer kini bergantung pada hasil pemilihan lokal di Skotlandia, Wales, dan Inggris pada Mei mendatang. Jika Partai Buruh mengalami kekalahan besar, tekanan dari rival internal seperti Wes Streeting maupun Angela Rayner yang masih terganjal masalah pajak pribadi diprediksi akan semakin menguat, dan posisi Starmer bisa jadi tidak lagi dapat dipertahankan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














