NARASITODAY.COM, LIMA – Istana Pizarro kembali menelan korbannya. Hanya dalam waktu empat bulan menjabat, Jose Jeri resmi dimakzulkan oleh Kongres Peru pada Selasa (17/2/2026). Pria berusia 39 tahun itu menjadi pemimpin ketiga berturut-turut yang dipaksa tanggal dari jabatannya oleh parlemen, memperpanjang daftar kelam instabilitas politik di negara Andes tersebut.
Jeri, yang naik takhta pada Oktober lalu setelah pemakzulan Dina Boluarte, kini tercatat sebagai presiden ketujuh Peru sejak 2018. Sebuah angka yang mencerminkan betapa rapuhnya kursi kepresidenan di sana.
Kejatuhan Jeri tidak terjadi dalam ruang hampa. Aroma kejatuhannya mulai tercium saat skandal yang dijuluki “Chifagate” mencuat ke publik. Merujuk pada istilah lokal untuk restoran China di Peru, skandal ini bermula saat Jeri terekam kamera mengenakan hoodie saat melakukan pertemuan rahasia dengan pengusaha asal China, Zhihua Yang.
Yang merupakan sosok berpengaruh yang memiliki jaringan toko dan konsesi energi yang sedang berada dalam pantauan otoritas negara. Meski Jeri telah menyampaikan permohonan maaf dan menegaskan bahwa “tidak ada pelanggaran hukum,” tekanan politik dari lawan-lawannya di parlemen tidak terbendung.
Para analis melihat pemakzulan ini bukan sekadar soal penegakan hukum, melainkan permainan catur politik menjelang pemilihan presiden April mendatang.
“Legitimasinya sebagai presiden memang sejak awal lemah,” ujar Martin Cassinelli dari Atlantic Council’s Adrienne Arsht Latin America Center. Cassinelli menilai langkah Kongres kali ini lebih mencerminkan kepentingan politik mayoritas parlemen yang terfragmentasi daripada murni soal keadilan.
Selain skandal “Chifagate”, rekam jejak Jeri memang kerap memicu polemik. Dari tuduhan pelecehan seksual pada awal 2025 yang kemudian dihentikan karena kurang bukti, hingga sorotan tajam saat ia memberikan kontrak negara kepada sejumlah perempuan yang sempat menemuinya dalam pertemuan larut malam di istana.
Meski masa jabatan empat bulannya terasa sangat singkat, Jeri bukanlah pemegang rekor masa tugas terpendek. Sejarah mencatat Manuel Merino pada tahun 2020 mundur hanya dalam waktu kurang dari sepekan setelah protes berdarah.
Namun, kepergian Jeri mempertegas pola krisis yang seolah tanpa akhir. Lahir dari keluarga kelas menengah di Lima dan memulai karier politik di partai konservatif Somos Peru, perjalanan Jeri dari Ketua Kongres hingga menjadi Presiden interim kini berakhir di tangan rekan-rekan lamanya di parlemen.
Kini, Peru kembali menatap masa depan yang abu-abu. Dengan sistem pemilu yang terfragmentasi, presiden berikutnya diprediksi akan tetap dihantui oleh ancaman pemakzulan yang sama, kecuali ada reformasi mendasar dalam stabilitas pemerintahan mereka.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













