Jepang Kian Terbuka Terima Pekerja Muslim, Etos Kerja Indonesia Jadi Kunci Penerimaan

0
Kota Yubari
Ilustrasi Bendera Jepang berkibar.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA — Pintu Negeri Sakura kian terbuka lebar bagi tenaga kerja asing, termasuk bagi pekerja Muslim dari Indonesia. Penerimaan ini bukan sekadar kebutuhan ekonomi, melainkan telah berevolusi menjadi hubungan sosial yang lebih dalam, didorong oleh karakter positif yang ditunjukkan oleh warga Indonesia di sana.

Chargés d’Affaires ad interim Jepang di Indonesia, Myochin Mitsuru, mengungkapkan bahwa kehadiran pekerja Indonesia di Jepang kini tengah mencatat rekor historis. Jumlah mereka diperkirakan telah menyentuh angka 180.000 orang, dengan laju pertumbuhan tercepat dibandingkan negara lain.

“Sekarang jumlah pekerja Indonesia sudah mencapai 180.000 orang di Jepang. Itu membuktikan bahwa masyarakat Jepang kini tidak memiliki keraguan untuk menerima pekerja Muslim, termasuk dari Indonesia,” ujar Myochin kepada media di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Baca Juga :  China Tembakkan Peluru Peringatan ke Kapal Perang Jepang, Ketegangan Maritim Meningkat

Myochin mengakui bahwa secara historis, masyarakat Negeri Sakura tidak memiliki pengetahuan mendalam mengenai komunitas Muslim. Namun, interaksi yang intens dalam beberapa tahun terakhir telah mengikis sekat-sekat budaya tersebut. Penerimaan yang hangat kini bahkan terlihat di wilayah-wilayah pedesaan Jepang yang biasanya cenderung konservatif dan tertutup.

Menurutnya, perubahan sikap ini lahir dari pengalaman langsung warga Jepang yang terkesan dengan etos kerja para pekerja asing itu.

“Orang-orang di daerah pedesaan Jepang akhirnya menyadari bahwa pekerja Indonesia itu rajin, jujur, dan baik. Itu sebabnya penerimaan terhadap mereka semakin besar,” katanya.

Baca Juga :  Gubernur Jabar Ajak Kepala Desa Kembali Jadi Pelestari Budaya dan Lingkungan

Fenomena ini, sambung Myochin, melampaui sekadar sektor ketenagakerjaan. Ia melihat peningkatan jumlah pekerja Indonesia sebagai pilar penguat hubungan bilateral melalui intensitas interaksi kemanusiaan.

“People-to-people contact sangat penting. Kita harus saling mengenal dan memahami latar belakang masing-masing, serta saling menghormati,” ujarnya.

Pengalaman pandemi COVID-19 beberapa tahun silam, menurut Myochin, telah menjadi pelajaran berharga tentang betapa berharganya interaksi fisik. Keterbatasan bertemu tatap muka saat krisis kesehatan melanda telah mengajarkan pentingnya kehadiran nyata dalam membangun pemahaman bersama.

“Pertemuan langsung dan pertukaran secara personal itu sangat penting untuk saling memahami dengan lebih baik,” tegasnya.

Baca Juga :  5 Risiko dan Manfaat Berada di Lingkaran Pertemanan Ambisius, Simak Ulasannya

Di penghujung perbincangan, Myochin juga menunjukkan apresiasinya terhadap kekayaan budaya Indonesia, khususnya saat Ramadan. Ia terkesan dengan semangat menahan diri yang dilakukan oleh umat Muslim selama berpuasa.

Ia pun mengutip peribahasa Jepang yang relevan dengan momen berbuka, “Hunger is the best seasoning,” yang bermakna rasa lapar adalah bumbu terbaik bagi makanan. Baginya, momen berbuka puasa menampilkan kebahagiaan yang tulus setelah seharian penuh menahan hawa nafsu.

Meski jadwal kerja yang padat belum memungkinkannya untuk merasakan langsung pengalaman berpuasa, Myochin mengaku sangat terbuka untuk suatu saat nanti mencoba sendiri tradisi spiritual tersebut.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com