NARASITODAY.COM, JAKARTA – Saat perayaan Lebaran, kehadiran ketupat hampir selalu menghiasi meja makan. Selain menjadi hidangan yang lezat, ketupat yang disajikan bersama berbagai lauk ternyata menyimpan makna filosofis yang mendalam.
Ketupat dikenal sebagai salah satu makanan yang paling identik dengan perayaan Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Hidangan ini biasanya disajikan bersama berbagai pelengkap seperti opor ayam, sambal goreng, atau sayur. Terbuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa muda, ketupat bukan hanya sekadar makanan tradisional, tetapi juga sarat simbol budaya.
Tradisi menyajikan ketupat saat Lebaran sudah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Nusantara. Di balik rasanya yang nikmat dan mengenyangkan, ketupat juga mengandung berbagai filosofi yang berkaitan dengan makna Idulfitri.
Berikut beberapa makna filosofis ketupat yang sering dikaitkan dengan tradisi Lebaran.
1. Asal-usul Tradisi Ketupat
Tradisi ketupat sering dihubungkan dengan tokoh penyebar Islam di Jawa, yaitu Sunan Kalijaga yang merupakan bagian dari Wali Songo. Ia diyakini memperkenalkan tradisi kupatan sebagai cara menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya.
Istilah “kupat” sendiri dipercaya berasal dari ungkapan Jawa “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Tradisi ini mengajak masyarakat untuk saling memaafkan setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan.
2. Filosofi Bentuk Anyaman
Membuat ketupat membutuhkan keterampilan khusus, terutama saat menganyam daun kelapa muda atau janur menjadi kantong berbentuk segi empat. Di banyak daerah, kemampuan ini diwariskan secara turun-temurun.
Janur sering dimaknai sebagai “jatining nur” atau cahaya sejati yang melambangkan petunjuk dari Tuhan. Sementara itu, bentuk anyaman yang rumit dianggap menggambarkan berbagai kesalahan manusia selama hidup.
3. Makna Nasi Putih di Dalamnya
Ketupat dibuat dengan memasukkan beras ke dalam anyaman janur hingga setengah penuh, lalu direbus selama beberapa jam hingga mengembang dan menjadi padat. Ketika dibelah, bagian dalamnya akan terlihat putih bersih.
Warna putih tersebut melambangkan hati yang kembali suci setelah saling memaafkan, selaras dengan makna “fitri” dalam Idulfitri yang berarti kembali pada kesucian.
4. Variasi Ketupat di Berbagai Daerah
Meski dikenal sebagai hidangan Lebaran di seluruh Indonesia, ketupat memiliki variasi penyajian di setiap daerah. Di Jawa, ketupat biasanya disajikan bersama opor ayam, sambal goreng ati, dan sayur labu siam.
Di Sumatra Barat, ketupat kerap dipadukan dengan gulai nangka atau rendang. Sementara di Bali terdapat varian yang disebut tipat dan sering digunakan dalam upacara keagamaan. Di Sulawesi Selatan, ketupat dikenal dengan nama katupat dan menjadi pelengkap hidangan seperti coto Makassar atau buras.
5. Makna Filosofis Lauk Pelengkap
Salah satu lauk yang paling sering menemani ketupat adalah opor ayam. Menurut penjelasan chef sekaligus sejarawan kuliner Wira Hardiansyah, kata opor memiliki kaitan dengan ungkapan Jawa “ngapura ing ngapuro” yang berarti saling memaafkan.
Tradisi meminta maaf yang telah lama ada dalam budaya Jawa kemudian dimanfaatkan oleh para penyebar Islam untuk menyampaikan pesan tentang kesucian dan kebersihan hati setelah Ramadan. Karena itu, ketupat dan lauk pendampingnya tidak hanya menjadi sajian lezat, tetapi juga simbol kebersamaan dan saling memaafkan saat Lebaran. (MG5)
Editor : Nathania
Sumber : detikfood














