NARASITODAY.COM,MANILA – Di tengah guncangan ekonomi akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, Presiden Filipina Ferdinand Marcos mengambil langkah drastis yang mengejutkan publik. Hanya berselang sehari setelah regulator transportasi mengumumkan kenaikan tarif, Marcos secara resmi membatalkan kebijakan tersebut dan justru menjanjikan program perjalanan gratis bagi warga.
Langkah ini diambil sebagai upaya darurat Pemerintah Filipina untuk meredam dampak lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mencekik negara pengimpor minyak mentah tersebut.
Perubahan Haluan yang Mendadak
Sebelumnya, pada Selasa (17/3/2026), otoritas transportasi Filipina telah menetapkan kenaikan tarif sebesar 8% untuk berbagai moda transportasi umum, termasuk Jeepney—kendaraan ikonik yang menjadi urat nadi mobilisasi jutaan warga Filipina setiap harinya.
Namun, pada Rabu (18/3/2026), Presiden Marcos menarik rem darurat atas kebijakan tersebut. Ia menilai beban ekonomi masyarakat saat ini sudah terlalu berat akibat krisis di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
“Menurut pendapat saya… sekarang mungkin bukan waktu yang tepat untuk menaikkan tarif bagi masyarakat,” tegas Marcos saat mengumumkan pembatalan tersebut, sebagaimana dikutip dari AFP.
Filipina dalam Cengkeraman Krisis Energi
Sebagai negara yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah, Filipina terus berupaya memutar otak demi menjaga stabilitas domestik. Berbagai kebijakan tak biasa telah diterapkan, mulai dari pemberlakuan empat hari kerja bagi pegawai negeri hingga penyaluran subsidi tunai bagi pengemudi becak.
Bahkan, satu-satunya kilang minyak di negara tersebut kini dilaporkan tengah menjajaki kemungkinan untuk membeli minyak dari Rusia sebagai alternatif pasokan yang lebih terjangkau di tengah blokade jalur pelayaran internasional.
Ambisi Perjalanan Gratis Nasional
Alih-alih menaikkan tarif, Marcos justru memerintahkan Departemen Transportasi untuk meluncurkan program perjalanan gratis di seluruh penjuru negeri. Kebijakan ini juga mencakup pemberian diskon signifikan untuk sistem kereta ringan (Light Rail Transit) dan tarif jalan tol.
Meski demikian, detail mengenai jenis transportasi apa saja yang akan digratiskan dan mekanisme pendanaannya masih menyisakan tanda tanya. Pihak Departemen Transportasi menyatakan tengah melakukan persiapan intensif untuk mengeksekusi instruksi presiden tersebut.
Kekecewaan dari Sisi Pengemudi
Langkah populis ini ternyata tidak disambut baik oleh semua pihak. Para pengemudi Jeepney yang berharap kenaikan tarif dapat menutupi biaya operasional BBM yang membengkak merasa dikhianati oleh keputusan mendadak ini.
Mody Floranda, Presiden Serikat Pengemudi Jeepney setempat, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas inkonsistensi pemerintah.
“Kami kecewa bahwa Presiden negara kami dengan kejam mencabut apa yang telah diberikan pemerintahnya kepada kami,” ujar Floranda kepada AFP.
Kini, Pemerintah Filipina menghadapi tantangan besar: menjaga daya beli masyarakat di satu sisi, dan memastikan keberlangsungan hidup para pekerja sektor transportasi di sisi lain, di tengah ketidakpastian perang global yang terus membayangi.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














