Mendikdasmen Tekankan Sekolah Aman dan Nyaman Berbasis Karakter, Bukan Sekadar Materi

0
Mendikdasmen
Dialog pendidikan bertema “Menata Fondasi Belajar: Menciptakan Sekolah Aman, Nyaman, dan Bermartabat bagi Guru dan Siswa” menghadirkan Mendikdasmen Abdul Mu’ti sebagai pembicara utama di Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (3/4/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan kepala sekolah dan guru sebagai upaya memperkuat budaya sekolah yang berkarakter dan humanis.

NARASITODAY.COM, PEKALONGAN-  Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh dimaknai sebatas penyampaian materi pelajaran, melainkan sebagai proses membangun karakter dan peradaban bangsa.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara kunci dalam dialog pendidikan bertajuk

Menata Fondasi Belajar Menciptakan Sekolah Aman, Nyaman, dan Bermartabat bagi Guru dan Siswa” di Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (3/4).

Menurut Mu’ti, sekolah harus menjadi ruang yang memuliakan manusia. Ia menekankan pentingnya relasi yang saling menghargai antara guru dan murid dalam proses pembelajaran.

Baca Juga :  Program GARITAN Antam Pongkor Tingkatkan Hasil Panen dan Ekonomi Warga Kalongliud

Guru harus memuliakan murid, murid menghormati guru, dan keduanya memuliakan ilmu,” ujarnya di hadapan sekitar 200 kepala sekolah dan guru.

Ia menjelaskan, arah kebijakan tersebut sejalan dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Regulasi ini menekankan pentingnya lingkungan sekolah yang menjamin perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosial, hingga etika dalam ruang digital.

Dalam konteks pembelajaran, Mu’ti mendorong penerapan pendekatan deep learning yang mengedepankan proses belajar yang mindful, meaningful, dan joyful.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Bekali Ribuan Guru Sekolah Rakyat, Titipkan Harapan Besar untuk Putus Rantai Kemiskinan

Menurutnya, pembelajaran tidak perlu berfokus pada banyaknya materi, tetapi pada kedalaman pemahaman siswa.

“Kita ingin siswa terlibat aktif dan memahami pelajaran secara mendalam, bukan sekadar menerima informasi,” katanya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa peran guru tidak berhenti sebagai pengajar di kelas.

Guru juga harus hadir sebagai pembimbing yang mendampingi perkembangan akademik, sosial, dan emosional siswa.

“Tugas guru itu membimbing secara menyeluruh. Semua guru pada dasarnya adalah wali bagi siswa,” katanya.

Mu’ti juga menyoroti pentingnya hidden curriculum atau pembelajaran nilai yang tidak tertulis dalam kurikulum formal. Nilai-nilai seperti disiplin, sopan santun, dan saling menghargai, menurutnya, justru terbentuk melalui pembiasaan dan keteladanan di lingkungan sekolah.

Baca Juga :  Pj. Bupati Bogor Bersama Pj. Gubernur Jabar Musnahkan Surat Suara Pilkada Serentak tahun 2024

Terkait penegakan disiplin, ia mengingatkan agar sekolah meninggalkan pendekatan kekerasan. Disiplin, kata dia, harus dibangun melalui cara yang mendidik dan menyadarkan siswa.

“Bukan dengan hukuman fisik, tetapi dengan pendekatan yang membuat siswa paham dan berubah,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya dialog dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan sekolah, termasuk melibatkan orang tua agar hubungan tetap terjaga.

Editor : Andreas