Harga Kebutuhan Pokok di Iran Melonjak Tajam Akibat Konflik dengan AS dan Israel

0
Iran
Ilustrasi bendera Iran. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TEHERANWajah Teheran kini muram. Di balik hiruk-pikuk kota yang mulai redup, jutaan warga Iran harus menelan pil pahit akibat krisis ekonomi yang kian mencekik. Konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah menyeret negara ini ke dalam lubang inflasi yang dalam, menghancurkan daya beli, hingga memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masif.

Pada awal pekan ini, harga-harga kebutuhan pokok mulai dari pangan, obat-obatan, hingga barang elektronik dilaporkan meroket tajam. Di pasar terbuka, nilai tukar Rial (IRR) jatuh ke titik nadir dalam sejarah, menyentuh angka 1,84 juta rial per dolar AS.

Krisis ini bukan sekadar angka di atas kertas. Di pusat belanja ponsel Teheran, sebuah iPhone 17 Pro Max 256GB yang di Amerika Serikat dibanderol US$1.200 (sekitar Rp20,4 juta), kini melambung hingga 5 miliar rial atau setara US$2.750 (Rp46,75 juta). Banyak pemilik toko memilih menutup etalase mereka, enggan menjual stok yang ada karena takut harga akan kembali melompat esok hari.

Baca Juga :  Masjid At-Taqwa Bogor Siap Fungsikan Sejak Awal Ramadan 2025

Kondisi serupa merambah industri otomotif. Mobil lokal Peugeot 206 kini dihargai 30 miliar rial (sekitar Rp280,5 juta), sementara mobil impor menjadi barang mewah yang mustahil dijangkau karena harganya lima kali lipat lebih mahal dibanding negara tetangga.

“Anda melihat harga dan gaji, dan Anda melihat angka-angkanya tidak sesuai,” ujar seorang warga Teheran yang enggan disebutkan namanya kepada Al Jazeera.

Rasa putus asa mulai menyelimuti warga. Dengan upah minimum bulanan yang hanya sekitar US$92 (Rp1,56 juta) dan subsidi pemerintah yang kurang dari US$10, masyarakat terpaksa melakukan langkah darurat demi bertahan hidup.

Baca Juga :  Israel Serang Ladang Gas Iran, Picu Eskalasi Perang Timur Tengah

“Tidak banyak yang bisa Anda lakukan selain mengubah sedikit yang Anda miliki menjadi sesuatu yang tidak mengalami penyusutan nilai atau membeli sesuatu yang Anda butuhkan yang mungkin tidak mampu Anda beli nanti,” tambah warga tersebut.

Keterpurukan ini diperburuk oleh pemadaman internet total yang telah memasuki hari ke-64, melumpuhkan sektor teknologi dan industri. Laporan dari berbagai wilayah, mulai dari pusat teknologi di Teheran hingga industri baja di Isfahan, menunjukkan banyak perusahaan mulai merumahkan karyawannya.

Meski media pemerintah berdalih bahwa lonjakan harga ini dipicu oleh faktor “psikologis” dan praktik “harga palsu” oleh spekulan, realita di lapangan menunjukkan kegagalan manajemen domestik yang diperparah oleh blokade laut dan sanksi internasional.

Baca Juga :  Nike Umumkan PHK 1.400 Karyawan Global sebagai Strategi Merampingkan Operasi

Di tengah tekanan ini, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mencoba memberikan suntikan semangat melalui pernyataan resminya. Ia menegaskan bahwa Iran harus mampu mengalahkan musuh tidak hanya di medan militer, tetapi juga dalam front ekonomi dan budaya.

Ia juga mengimbau sektor industri untuk tidak melakukan PHK di tengah badai krisis. “Iran sedang menempuh jalan menuju puncak kemajuan dan perkembangan,” tegasnya optimis, meski jutaan rakyatnya kini tengah berjuang hanya untuk sekadar memenuhi piring makan.

Hingga berita ini diturunkan, ketidakpastian masih menyelimuti pasar-pasar di Iran. Bagi banyak orang di Teheran, “puncak kemajuan” yang dijanjikan terasa masih sangat jauh di atas tumpukan tagihan yang tak mampu lagi mereka bayar.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com