NARASITODAY.COM, JAKARTA – Daging kambing kerap menjadi hidangan favorit masyarakat Indonesia, terutama saat perayaan keluarga, acara khusus, maupun hari besar keagamaan. Namun, di balik popularitasnya, masih banyak anggapan yang beredar bahwa konsumsi daging kambing secara otomatis dapat menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Faktanya, sejumlah ahli kesehatan menegaskan bahwa tidak semua informasi yang berkembang di masyarakat mengenai daging kambing terbukti benar. Beberapa bahkan termasuk mitos yang telah dipercaya secara turun-temurun. Agar tidak salah paham, berikut lima anggapan keliru tentang daging kambing dan kaitannya dengan risiko darah tinggi.
1. Daging Kambing Pasti Menyebabkan Hipertensi
Mitos yang paling umum adalah bahwa mengonsumsi daging kambing akan langsung membuat tekanan darah melonjak. Padahal, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa daging kambing secara langsung menyebabkan hipertensi pada orang yang sehat.
Kenaikan tekanan darah lebih sering dipengaruhi oleh faktor lain seperti konsumsi garam berlebihan, obesitas, kurang aktivitas fisik, stres, hingga riwayat keluarga.
2. Kandungan Kolesterol Daging Kambing Lebih Tinggi dari Daging Sapi
Banyak orang menganggap daging kambing memiliki kadar kolesterol yang jauh lebih tinggi dibandingkan daging sapi. Faktanya, beberapa bagian daging kambing justru memiliki kandungan lemak yang relatif lebih rendah dibandingkan potongan tertentu pada daging sapi.
Meski demikian, jumlah kolesterol dapat berbeda tergantung bagian daging yang dikonsumsi dan cara pengolahannya.
3. Semua Orang Harus Menghindari Daging Kambing
Tidak sedikit masyarakat yang percaya bahwa daging kambing sebaiknya dihindari oleh semua kalangan demi menjaga kesehatan jantung. Padahal, daging kambing tetap dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang jika dikonsumsi dalam jumlah wajar.
Daging kambing juga mengandung protein, zat besi, vitamin B12, dan berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh.
4. Hipertensi Setelah Makan Kambing Selalu Disebabkan oleh Dagingnya
Keluhan seperti pusing atau rasa tidak nyaman setelah menyantap hidangan kambing sering kali langsung dikaitkan dengan tekanan darah tinggi. Namun, kondisi tersebut belum tentu disebabkan oleh daging kambing itu sendiri.
Banyak hidangan berbahan kambing yang diolah dengan tambahan garam, santan, atau bumbu dalam jumlah besar. Faktor-faktor inilah yang berpotensi memengaruhi kesehatan, terutama bila dikonsumsi secara berlebihan.
5. Daging Kambing Tidak Cocok untuk Pola Makan Sehat
Anggapan bahwa daging kambing tidak dapat masuk dalam menu sehat juga termasuk mitos. Kuncinya terletak pada porsi dan metode memasak. Pengolahan dengan cara dipanggang, direbus, atau dibakar tanpa banyak lemak tambahan dinilai lebih baik dibandingkan metode yang menggunakan minyak berlebihan.
Mengombinasikan daging kambing dengan sayuran, buah, dan sumber serat lainnya juga dapat membantu menjaga keseimbangan nutrisi.
Para ahli kesehatan menekankan bahwa risiko hipertensi tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja. Pola makan secara keseluruhan, gaya hidup, aktivitas fisik, kualitas tidur, serta kondisi kesehatan individu memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap tekanan darah.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terbukti secara ilmiah. Mengonsumsi daging kambing dalam porsi yang wajar dan diimbangi pola hidup sehat tetap menjadi langkah terbaik untuk menjaga kesehatan jantung dan tekanan darah tetap terkendali.***
Editor : Alysa
Sumber : idntimes.com














