NARASITODAY.COM, MADRID – Dinding vertikal di Madrid, Spanyol, menjadi panggung pembuktian bagi generasi baru pemanjat tebing Indonesia. Pada laga final yang berlangsung Minggu (31/5/2026) waktu setempat, atlet speed putra Indonesia, Antasyafi Robby Al Hilmi, sukses membawa pulang medali perak dalam gelaran bergengsi World Climbing Series.
Kendati harus puas berdiri di podium kedua setelah mencatatkan waktu 4,81 detik di partai puncak, Robby telah memberikan perlawanan sengit. Ia hanya kalah super tipis dari raksasa panjat tebing asal China, Shouhong Chu, yang berhak atas medali emas setelah menyentuh tombol finis dalam waktu 4,75 detik.
Bagi Robby, pencapaian di ibu kota Spanyol ini terasa sangat emosional. Ini adalah momen perdana dalam kariernya berhasil menginjakkan kaki di atas podium World Climbing Series. Kedigdayaan Robby bahkan sempat mengonversikan decak kagum penonton di babak semifinal, saat ia berhasil memecahkan rekor catatan waktu terbaik pribadinya (personal best) menjadi 4,72 detik.
Catatan waktu fantastis di semifinal itu pula yang mengantarkan Robby menjegal langkah atlet Amerika Serikat, Zach Hammer. Hammer sendiri pada akhirnya harus gigit jari setelah kembali menelan kekalahan dari Jie Yang asal China dalam perebutan medali perunggu.
Evaluasi Total di Balik Gugurnya Sang Unggulan
Sayangnya, dewi fortuna belum menaungi rekan-rekan seperjuangan Robby di sektor putra. Langkah deretan atlet andalan Indonesia lainnya harus terhenti lebih awal di babak 16 besar dan perempat final akibat kesalahan teknis di atas dinding.
Bintang panjat tebing Veddriq Leonardo dipaksa mengubur mimpinya melaju ke perempat final setelah mengalami fall (tergelincir) saat berduel satu lawan satu dengan Matteo Zurloni dari Italia. Nasib serupa menimpa Raharjati Nursamsa yang terhenti di perempat final akibat mengalami fall saat meladeni ketangguhan Jie Yang.
Awan mendung juga menggelayuti sektor speed putri. Dua srikandi andalan, Berthdigna Devi Surya Kusuma dan Desak Made Rita Kusuma Dewi, langsung tumbang berjamaah di babak 16 besar. Sementara itu, Rajiah Sallsabillah yang sempat membuka harapan hanya mampu melangkah hingga perempat final usai mengakui keunggulan atlet andalan Amerika Serikat, Emma Hunt.
Meskipun diwarnai banyak insiden fall, secara kolektif performa Tim Garuda di Madrid mencatatkan grafik yang lebih positif ketimbang seri sebelumnya di Wujiang, China. Pada seri Wujiang, Indonesia tercatat hanya mampu membawa pulang selembar medali perunggu lewat aksi Desak Made di nomor speed putri.
Merespons naik-turunnya performa anak asuhnya, Kepala Pelatih Speed Indonesia, Galar Pandu Asmoro, menyatakan rasa syukurnya atas pencapaian sektor putra. Namun, ia menegaskan tidak akan larut dalam euforia dan siap menggelar evaluasi total begitu tim mendarat di tanah air.
“Dari Wujiang dan Madrid kami terus melakukan evaluasi, mana saja yang akan diperbaiki. Setelah pulang nanti, kami akan menyusun program-program untuk mengatasi kekurangan-kekurangan tim kami,” ungkap Galar dalam rilis resmi yang diterima.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com













