NARASITODAY.COM, JAKARTA – Gemerlap impian para atlet untuk mengibarkan bendera Merah Putih di panggung tertinggi Asia, sebuah tantangan finansial yang nyata tengah membayangi. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) memastikan bahwa roda persiapan Indonesia menuju Asian Games 2026 akan terus berputar, meski kantong anggaran pemusatan latihan nasional (pelatnas) harus dikencangkan akibat penurunan yang sangat signifikan.
Kepastian tersebut meluncur seusai Menpora menghadiri rapat kerja yang alot bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat. Di tengah kekhawatiran publik mengenai nasib pembinaan atlet, Menpora menegaskan bahwa negara tidak akan menelantarkan hak-hak dasar para pejuang olahraga tersebut, terutama urusan tiket keberangkatan ke ajang multievent terbesar di Benua Kuning itu.
Berdasarkan data yang dipaparkan, pangkasan dana pelatnas kali ini memang terbilang drastis jika dibandingkan dengan edisi sebelumnya. Pada persiapan menuju Asian Games 2022 (yang digelar 2023), kantong anggaran pelatnas masih tebal di angka Rp 389,8 miliar. Namun, untuk menyongsong Asian Games 2026, angka tersebut merosot tajam menjadi hanya Rp 81,04 miliar.
Walau harus beroperasi dengan dana yang cekak, prioritas utama negara diklaim tidak akan goyah dalam menjamin kehadiran fisik skuad Garuda di arena pertandingan.
“Namun alokasi anggaran untuk keberangkatan kontingen tetap terjaga dan diprioritaskan,” kata Menpora dalam keterangan tertulisnya.
Asa Dukungan Tambahan dan Realitas di Atas Matras
Kondisi “diet ketat” anggaran ini membuat Kemenpora harus memutar otak. Menpora tidak menampik bahwa keringat dan pengorbanan yang telah dicurahkan oleh para atlet serta pelatih di lapangan memerlukan kompensasi fasilitas yang manusiawi dan memadai.
Oleh karena itu, ia mengetuk pintu hati para pemangku kepentingan dan sektor swasta agar sudi mengulurkan tangan memberikan sokongan dana tambahan demi mendongkrak kualitas persiapan di sisa waktu yang ada.
Bukan hanya masalah dompet yang menyusut, peta kekuatan Indonesia di atas kertas juga terpaksa ikut direvisi. Di dalam ruang sidang Parlemen, Menpora secara realistis mengumumkan penurunan target perolehan medali emas untuk ajang kali ini.
Jika pada edisi Asian Games 2022 Indonesia berani mematok target tujuh medali emas, kini target tersebut dipangkas dan disesuaikan menjadi empat medali emas saja. Langkah mundur ini harus diambil lantaran tiga nomor andalan yang menjadi lumbung emas tradisional Indonesia resmi dihapus dari daftar perlombaan oleh pihak penyelenggara.
Tiga nomor yang hilang tersebut adalah 10 meter running target dan 10 meter running target mixed dari cabang olahraga menembak, serta cabang olahraga traditional boat race (dayung perahu tradisional).
Dengan hilangnya peluang dari sektor tersebut, tumpuan medali kini otomatis bergeser penuh pada cabang olahraga yang masih dipertandingkan, seperti wushu, angkat besi, panjat tebing, dan balap sepeda.
“Dengan kondisi saat ini, ditambah ada tiga nomor pertandingan yang tidak dipertandingkan, maka target kita di Asian Games tahun ini adalah empat medali emas,” ujar Menpora memaparkan kalkulasi rasionalnya.
Kendati diterpa badai efisiensi anggaran dan pemangkasan target prestasi, pemerintah menutup pernyataannya dengan komitmen moral yang tegas. Negara berjanji bahwa keterbatasan finansial tidak akan pernah menjadi alasan untuk memadamkan mimpi para atlet Indonesia agar tetap bisa berdiri tegak, berkompetisi, dan bertarung sejajar dengan negara-negara raksasa Asia lainnya pada pergelaran Asian Games 2026.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com














