Gelombang Panas Ekstrem Bayangi Piala Dunia 2026 di AS, Ilmuwan Soroti Dampak Perubahan Iklim

0
panas ekstrem
Ilustrasi panas matahari.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, PHILADELPHIAGelombang panas ekstrem yang melanda Amerika Serikat di tengah penyelenggaraan Piala Dunia 2026 memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan pemain dan penonton. Para ilmuwan menilai kondisi cuaca yang tidak biasa tersebut merupakan dampak perubahan iklim yang dipicu penggunaan bahan bakar fosil.

Kelompok ilmuwan iklim World Weather Attribution (WWA) menyebut perubahan iklim telah meningkatkan peluang terjadinya suhu dan kelembapan ekstrem hingga menciptakan kondisi berbahaya selama turnamen berlangsung. Setidaknya satu pertandingan Piala Dunia dinilai berada dalam kategori berisiko tinggi akibat panas yang berlebihan.

Salah satu laga yang menjadi perhatian adalah pertandingan Paraguay melawan Prancis yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (4/7) pukul 17.00 waktu setempat di Philadelphia. Pertandingan itu diperkirakan digelar saat suhu udara melampaui batas aman yang direkomendasikan oleh serikat pemain sepak bola dunia, FIFPRO.

Baca Juga :  Bersinar di Kualifikasi Piala Dunia, Marselino Ferdinan Dikenal Sebagai Bintang Muda Asia!

Cuaca panas tersebut dipengaruhi fenomena heat dome, yakni sistem tekanan udara tinggi yang memerangkap udara panas di dekat permukaan bumi. Fenomena ini saat ini melanda sebagian besar wilayah Amerika Serikat hingga sejumlah kawasan di Kanada, membuat suhu terasa jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat (National Weather Service/NWS) memperingatkan indeks panas di sejumlah wilayah Midwest dan Pantai Timur dapat mencapai 105 hingga 115 derajat Fahrenheit atau sekitar 40,5 hingga 46,1 derajat Celsius. Beberapa kota yang menjadi tuan rumah Piala Dunia juga termasuk dalam wilayah yang terdampak.

Selain berpotensi mengganggu jalannya pertandingan, gelombang panas diperkirakan meningkatkan beban jaringan listrik serta memengaruhi berbagai kegiatan masyarakat yang merayakan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat ke-250 pada akhir pekan libur Fourth of July.

Baca Juga :  Adaptasi Perubahan Iklim di Indonesia Butuh 5 Bentuk Toleransi Antar Budaya

Profesor Ilmu Iklim di Centre for Environmental Policy, Imperial College London, Friederike Otto, mengatakan dampak perubahan iklim kini semakin nyata dan tidak lagi sebatas prediksi ilmiah.

“Ketika perayaan bersejarah Hari Kemerdekaan terganggu dan pertandingan Piala Dunia dimainkan dalam kondisi yang tidak aman bagi pemain maupun penonton, seharusnya itu sudah cukup menjadi peringatan,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Otto menambahkan perubahan iklim telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi semakin memburuk apabila upaya menuju target net zero emissions terus mengalami penundaan.

Kekhawatiran terhadap cuaca panas sebenarnya telah muncul sejak penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub di Amerika Serikat. Saat itu, FIFPRO mengingatkan adanya risiko kesehatan bagi pemain akibat suhu tinggi dan kelembapan yang ekstrem.

Baca Juga :  Duel Raksasa di Pasadena! PSG vs Atletico Jadi Pembuka Panas Grup B

Meski memberikan apresiasi kepada FIFA atas langkah penyesuaian jadwal pertandingan dan pemilihan stadion dengan mempertimbangkan aspek kesehatan pemain, FIFPRO menilai masih terdapat sejumlah pertandingan yang tetap memiliki tingkat risiko tinggi akibat cuaca panas.

Organisasi tersebut juga menegaskan bahwa tren pemanasan global akan membuat faktor suhu ekstrem menjadi pertimbangan yang semakin penting dalam penyusunan kalender kompetisi sepak bola internasional.

Hingga kini, FIFA belum memiliki regulasi yang secara otomatis mewajibkan penundaan pertandingan akibat cuaca panas ekstrem dan belum memberikan tanggapan terkait permintaan komentar mengenai isu tersebut.***

Editor : Alysa

Sumber : kontan.co.id