Ratusan Warga Meriahkan Festival Adat dan Budaya Saba Lembur II di Kiarasari, Tradisi Ngubek Empang Jadi Daya Tarik

0
Pawai dongdang yang diikuti ratusan warga Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, mengawali rangkaian Festival Adat dan Budaya Saba Lembur II, Selasa (7/7/2026). Warga membawa replika dan hasil bumi sebagai wujud rasa syukur sekaligus upaya melestarikan tradisi serta memperkenalkan potensi wisata dan budaya lokal. Foto: Andreas/ Narasitoday.com

NARASITODAY.COM, BOGOR – Ratusan warga Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, memadati kawasan Bukit Wisata Curug Cidurian, Kampung Cibuluh, dalam rangka Festival Adat dan Budaya Saba Lembur II, Selasa (7/7/2026).

Beragam tradisi dan budaya lokal ditampilkan sebagai upaya melestarikan warisan leluhur sekaligus mengangkat potensi wisata dan ekonomi masyarakat.

Turut di hadiri dalam kegiatan itu, PLT Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor Yudi Santosa, Manajer CSR PT Antam Pongkor, Ketua Sabaki Banten Kidul, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Banten Kidul, Ketua Majelis Permusyawaratan Masyarakat Kasepuhan (MPMK).

Kegiatan hari kedua festival diawali dengan pawai dongdang yang diikuti warga dari berbagai wilayah di Desa Kiarasari.

Mereka membawa hasil bumi, produk pertanian, serta berbagai karya masyarakat sebagai simbol rasa syukur atas hasil alam yang melimpah.

Puncak kemeriahan berlangsung saat tradisi ngubek empang, di mana ratusan warga turun ke kolam untuk menangkap ikan secara bersama-sama.

Baca Juga :  Rivalitas Ronaldo dan Messi Diperkirakan Kembali Memanas Pasca Piala Dunia 2026

Sekitar tiga kuintal ikan disebar ke dalam empang dan menjadi rebutan masyarakat, menciptakan suasana meriah yang disambut antusias masyarakat maupun wisatawan.

“Tradisi ngubek empang selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap perayaan masyarakat di wilayah tersebut,” kata Pembina Ekowisata Curug Cidurian, Nurodin atau yang akrab disapa Jaro Peloy.

Ratusan warga dan wisatawan menyaksikan tradisi ngubek empang dalam Festival Adat dan Budaya Saba Lembur II di Bukit Wisata Curug Cidurian, Kampung Cibuluh, Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Selasa (7/7/2026). Tradisi menangkap ikan bersama yang menjadi bagian dari kearifan lokal ini menjadi daya tarik utama festival sekaligus sarana mempererat kebersamaan masyarakat. Foto: NARASI TODAY

Dia menjelaskan, Festival Adat dan Budaya Saba Lembur digelar selama tiga hari dengan berbagai rangkaian kegiatan.

“Hari pertama diisi dengan perlombaan tradisional, kemudian malam harinya digelar zikir akbar. Tujuannya agar wisata ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga mampu membentuk perilaku masyarakat yang someah hade ka semah, sebagai daya tarik wisata yang membawa keberkahan melalui pergerakan ekonomi,” ujarnya.

Baca Juga :  Akses Jalan Puncak II Terputus Akibat Longsor

Pada hari kedua, lanjut Nurodin, masyarakat menampilkan karnaval hasil pertanian sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memperkenalkan potensi Desa Kiarasari kepada para pengunjung.

“Semua hasil pertanian dibawa ke lokasi dan disajikan untuk dinikmati siapa saja. Ini merupakan bagian dari upaya mendukung wisata yang dibangun oleh masyarakat, bukan oleh para pemodal. Melalui karnaval ini, para pendatang bisa menikmati suasana alam sekaligus budaya yang ada di sini,” katanya.

Jadi kata dia, Festival Saba Lembur juga menjadi strategi untuk membuka lapangan ekonomi baru bagi warga agar tidak bergantung pada pekerjaan di perkotaan.

“Saya ingin masyarakat tidak lagi harus bermigrasi ke kota karena di desa pun ada peluang ekonomi. Dalam sebulan, Curug Cidurian sedikitnya dikunjungi sekitar 7.000 wisatawan. Mereka bisa menikmati wisata ini secara gratis, hanya membayar parkir kendaraan dan tiket masuk kawasan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Musrenbangdes Di Tugu Selatan Prioritaskan Pendidikan Dan Infrastuktur

Ia berharap meningkatnya kunjungan wisata dapat dimanfaatkan masyarakat dengan menjual suvenir, hasil pertanian, maupun produk lokal lainnya.

“Kita datangkan pasar kesini. Masyarakat tinggal memanfaatkan peluang itu untuk meningkatkan pendapatan,” jelasnya.

Selain memberikan manfaat ekonomi, pengembangan ekowisata juga dinilai berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kawasan Curug Cidurian merupakan bagian dari hulu daerah aliran sungai yang mengalir hingga Provinsi Banten.

“Melalui kegiatan wisata ini, masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga hutan. Aktivitas seperti illegal logging dan perambahan hutan dapat ditekan karena masyarakat memahami bahwa kelestarian alam merupakan aset utama wisata. Ini juga sejalan dengan tradisi kasepuhan yang mengajarkan agar gunung tetap lestari, hutan tetap terjaga, dan alam diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.***

Wartawan : Andreas