Pemberontak Deklarasikan Kemenangan, Assad Kabur ke Rusia di Tengah Konflik

0
Ilustrasi Bashar al-Assad

NARASITODAY.COM Dalam perkembangan dramatis yang mengguncang Suriah, kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS) berhasil mendeklarasikan kemenangan setelah merebut ibu kota Damaskus pada Minggu (8/12/2024).

Pemberontak mengumumkan bahwa rezim Presiden Bashar al-Assad yang telah berkuasa selama 24 tahun kini telah berakhir, dan mereka menyatakan bahwa “era kegelapan” telah digantikan dengan harapan baru bagi rakyat Suriah.

Dalam sebuah siaran langsung di televisi, seorang perwakilan pemberontak, Abu Mohammed al-Jolani, menyampaikan bahwa semua tahanan telah dibebaskan dari penjara, menandai awal dari perubahan besar di negara tersebut.

Baca Juga :  Pemecatan Marc Bonnick Picu Debat Soal Kebebasan Berekspresi di Dunia Olahraga

“Hari ini adalah hari kebangkitan rakyat Suriah. Kami berkomitmen untuk membangun negara yang bebas dari penindasan dan ketidakadilan,” ujarnya dengan penuh semangat.

Sementara itu, dalam kekacauan ini, Presiden Assad dilaporkan melarikan diri dari Suriah menggunakan pesawat dari bandara Damaskus. Menurut laporan media, Assad dan keluarganya tiba di Moskow setelah meninggalkan ibu kota saat pemberontak menguasai wilayah strategis.

Sumber Kremlin mengonfirmasi bahwa mereka mendapatkan suaka “atas dasar pertimbangan kemanusiaan.” Kejadian ini menunjukkan betapa cepatnya perubahan kekuasaan di Suriah dan menandakan kemungkinan akhir dari pemerintahan Assad yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade.

Baca Juga :  Teror Kepala Babi: Ancaman terhadap Kebebasan Pers di Kantor Tempo

Dalam wawancara eksklusif, seorang analis politik Timur Tengah, Dr. Ahmad Al-Farouq, menjelaskan dampak dari peristiwa ini “Kejatuhan Assad bukan hanya mengubah peta politik Suriah, tetapi juga mempengaruhi stabilitas kawasan secara keseluruhan. Negara-negara tetangga seperti Lebanon dan Turki harus bersiap menghadapi kemungkinan gelombang pengungsi baru serta dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh situasi ini.”

Dia juga menambahkan bahwa komunitas internasional perlu segera mengambil langkah untuk mendukung transisi menuju pemerintahan yang lebih inklusif dan demokratis.

Baca Juga :  Revitalisasi Jalur KRL di Stasiun Bogor Mulai Dilakukan, Penumpang Diminta Bersabar

Dengan situasi yang terus berkembang, banyak pihak yang mengamati bagaimana transisi kekuasaan ini akan mempengaruhi stabilitas di Suriah dan kawasan sekitarnya. Para pemimpin pemberontak berjanji untuk membangun Suriah yang lebih baik dan damai, sementara masyarakat bersukacita merayakan kejatuhan rezim yang selama ini mereka anggap menindas.

“Kami tidak akan berhenti sampai semua rakyat Suriah merasakan kebebasan dan keadilan,” tegas al-Jolani dalam pidato penutupnya.***