NARASITODAY.COM – Di balik gemuruh rutinitas belajar mengajar di sebuah SMP di Depok, Jawa Barat, tersimpan kisah kelam yang mulai terkuak berkat keberanian seorang guru ekstrakurikuler berinisial SP. Ia membuka tabir dugaan pelecehan yang dialami beberapa siswi di sekolah tersebut, sebuah cerita yang bermula dari rekaman percakapan tak pantas antara seorang guru dan siswi kelas 7 berinisial V pada bulan puasa 2025.
Rekaman itu menjadi bukti awal saat V bersama orang tuanya melaporkan kejadian tersebut ke pihak sekolah. Namun, respons yang diterima justru mengecewakan. “Korban V tidak merasa mendapat keadilan dari kasusnya, dan V bercerita kepada temannya, sehingga temannya ingin membantu V dengan cara memplubikasikan kejadian ini ke twitter,” ungkap SP melalui unggahan di media sosialnya pada Kamis (22/5/2025).
Keberanian V membuka suara menggerakkan korban-korban lain untuk berbagi pengalaman serupa. Siswi berinisial A, kelas 8, mengisahkan pengalamannya pada 2024 ketika guru tersebut merangkul pinggang dan meremas area belakang tubuhnya di ruang kelas. “Korban A merasa terkejut dan bingung bereaksi apa, sehingga korban A hanya mundur dan tidak lama meninggalkan ruang kelas tersebut,” katanya.
Kisah lain datang dari siswi S yang sering merasa tidak nyaman dengan sentuhan fisik guru tersebut, serta F yang pernah disentuh pada bagian sensitif dengan alasan merapikan seragam. Ketakutan untuk bersuara menghantui para korban, baik karena khawatir nilai mereka terpengaruh maupun posisi pelaku yang sulit dijangkau hukum.
SP juga mengungkapkan bahwa ada korban lain, E, yang mengalami pelecehan sejak 2019 dengan modus dipegang paha dan diajak berhubungan badan, namun laporan tersebut diduga tidak ditanggapi serius oleh sekolah. Korban verbal lainnya, F, bahkan mengalami pelecehan di depan guru lain. Saksi N pernah melihat korban B dipangku oleh guru tersebut, namun saat dilaporkan ke guru BK dan wali kelas, tidak ada tindakan yang diambil.
Hingga kini, sudah ada sepuluh korban yang terdata oleh SP, termasuk M yang pada 2014 diminta duduk di pangkuan guru dan ditarik pinggangnya, serta korban lain yang mengalami pelecehan fisik dan verbal.
Sayangnya, upaya korban untuk mencari keadilan kerap berujung pada pengabaian. Bahkan, ketika isu ini mulai mencuat, pihak sekolah diduga memanggil beberapa siswa kelas 9 untuk memperingatkan agar tidak menyebarkan informasi lebih luas.
“Dari percakapan yang berlangsung, 3 orang siswa/i kelas 9 merasa disuruh diam oleh pihak sekolah, dan kemudian merasa semakin iba kepada korban. Mereka khawatir jika korban lain bercerita ke pihak sekolah, hasilnya nihil seperti sebelumnya,” tulis SP.
Para korban berharap bukan sekadar kasus ini ditutup begitu saja. Mereka ingin pelaku mengakui perbuatannya, meminta maaf secara terbuka, dan sekolah memberikan sanksi tegas serta jaminan perlindungan agar kejadian serupa tidak terulang. “Korban dari awal berharap ada pengawalan dan keadilan yang diperoleh, termasuk dari pihak sekolah,” kata SP.
Kisah ini membuka mata kita tentang pentingnya mendengar suara korban dan memastikan keadilan ditegakkan dalam dunia pendidikan, agar ruang belajar menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi setiap anak.***














