NARASITODAY.COM, INDIA – Bank Sentral India (Reserve Bank of India/RBI) tengah gencar mempromosikan penggunaan mata uang nasional mereka, rupee, dalam transaksi perdagangan global.
Inisiatif ini bertujuan mempermudah mitra dagang bebas India untuk bertransaksi langsung dalam rupee, sejalan dengan tren global yang mengarah pada pengurangan dominasi dolar Amerika Serikat atau dedolarisasi.
Sebagai langkah awal, RBI telah menetapkan nilai tukar referensi rupee secara langsung, tanpa bergantung pada mata uang pihak ketiga seperti dolar AS. Saat ini, sebagian besar mata uang dunia masih menggunakan dolar sebagai acuan utama dalam menentukan nilai tukarnya.
Menurut sumber dari pemerintah India, fokus utama kebijakan ini adalah pada “internasionalisasi Rupee dengan meningkatkan kegunaannya untuk perdagangan dan transaksi modal di antara negara-negara tetangga.”
Meski demikian, Gaura Sen Gupta, Kepala Ekonom di IDFC FIRST Bank, menegaskan bahwa:
“Sejatinya, langkah ini tidak pernah digambarkan sebagai gerakan de-dolarisasi, meskipun bertujuan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.”
Faktor-faktor seperti meningkatnya ketegangan geopolitik, sanksi ekonomi dari negara-negara Barat, serta kebijakan moneter Amerika Serikat, mendorong banyak negara untuk mencari alternatif selain dolar. Di India, beberapa kilang minyak kini dilaporkan telah mulai membayar impor minyak dari Rusia menggunakan yuan China, melewati penggunaan dolar.
Selain itu, pada awal bulan ini, RBI juga mengumumkan rencana untuk memperkenalkan nilai tukar referensi perdagangan bagi dirham Uni Emirat Arab (UEA) dan rupiah Indonesia. India juga tengah mengembangkan nilai tukar referensi serupa untuk negara-negara lain seperti Mauritius, Australia, dan Inggris.
Dalam setiap negosiasi perdagangan, India secara aktif mendorong penggunaan rupee sebagai mata uang penagihan, sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi rupee di kancah internasional.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














