Hampir 700 Warga Asing Melarikan Diri ke Thailand Usai Operasi Militer di Myanmar

0
Thailand
Ilustrasi Para prajurit berdiri berbaris. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BANGKOK – Hampir 700 warga negara asing dilaporkan melarikan diri dari Myanmar dan memasuki wilayah Thailand setelah militer melakukan operasi terhadap KK Park, sebuah pusat kejahatan siber yang diketahui memiliki dukungan dari kelompok asal China.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Kamis (23/10/2025), militer Thailand menyebutkan bahwa sebanyak 677 orang telah diamankan setelah melintasi perbatasan menuju Provinsi Tak. Dari jumlah tersebut, 618 merupakan pria dan 59 lainnya perempuan.

Baca Juga :  Geger! Presiden Guinea-Bissau Disebut Dalang Kudeta Sendiri Saat Lari ke Tetangga​

Seluruh individu tersebut kini sedang menjalani proses hukum dan pemeriksaan lanjutan. Pihak berwenang Thailand juga telah menyiapkan fasilitas penahanan tambahan jika kapasitas yang tersedia tidak mencukupi.

“Seluruh tindakan dilakukan sesuai prinsip hukum dan kemanusiaan,” tegas militer Thailand dalam pernyataannya, sambil menambahkan bahwa mereka bekerja sama dengan aparat keamanan lokal untuk menjaga stabilitas di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar.

Baca Juga :  97 Persen Penjual E-Commerce Adalah UMKM, Mendag Budi Santoso Siapkan Jaring Pengaman dari Monopoli dan Serbuan Impor

Mayoritas dari para pengungsi tersebut berasal dari India dan China, sementara sisanya berasal dari Vietnam, Pakistan, Indonesia, dan beberapa negara lainnya.

KK Park, yang terletak di Myanmar, telah lama dikenal oleh komunitas internasional dan para diplomat sebagai pusat aktivitas penipuan digital. Kawasan tersebut, bersama dengan beberapa area serupa di sekitarnya, dikendalikan oleh jaringan kriminal asal China dan dijaga oleh milisi lokal yang memiliki hubungan dengan militer Myanmar.

Baca Juga :  Bangladesh Bukan Sekadar Padat! Ini 5 Fakta Mengejutkan di Balik Negara dengan Polusi Tertinggi Dunia

Wilayah perbatasan yang mencakup Thailand, Myanmar, Laos, dan Kamboja telah menjadi titik panas bagi praktik penipuan daring, terutama sejak pandemi COVID-19 melanda.

Menurut laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), miliaran dolar telah dihasilkan dari praktik perdagangan manusia yang memaksa ratusan ribu orang bekerja di kompleks-kompleks penipuan tersebut.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber