Flu Burung Loncat ke Manusia, Ancaman Global 2025 Mengintai

0
Flu Burung
Ilustrasi Flu Burung. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, PARIS — Kekhawatiran global muncul seiring dengan meluasnya penyebaran virus flu burung H5 di antara populasi burung liar, unggas, dan mamalia. Para ilmuwan memperingatkan bahwa jika virus ini bermutasi dan mendapatkan kemampuan untuk menular antarmanusia, pandemi yang ditimbulkannya berpotensi lebih buruk dan lebih mematikan daripada pandemi Covid-19.

Flu burung yang sangat patogen ini telah memicu pemusnahan ratusan juta unggas dalam beberapa tahun terakhir, menciptakan kekacauan pada rantai pasokan makanan dan mendorong kenaikan harga.

Marie-Anne Rameix-Welti, Direktur Medis di Pusat Infeksi Pernapasan Institut Pasteur, mengungkapkan kekhawatiran utama komunitas ilmiah.

“Yang kami khawatirkan adalah virus beradaptasi dengan mamalia, dan khususnya manusia, sehingga mampu menular dari manusia ke manusia, dan virus itu akan menjadi virus pandemi,” ujar Marie-Anne Rameix-Welti kepada Reuters, Kamis (27/11/2025).

Baca Juga :  5 Jalan Raya Terpanjang di Dunia yang Cocok untuk Road Trip

Institut Pasteur sendiri memiliki peran krusial; laboratorium di Paris ini adalah salah satu yang pertama di Eropa yang mengembangkan dan membagikan tes deteksi Covid-19, menyediakan protokol untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan laboratorium global.

Rameix-Welti menjelaskan mengapa virus H5 sangat berbahaya. Manusia umumnya memiliki antibodi terhadap flu musiman biasa (H1 dan H3), tetapi tidak memiliki antibodi terhadap flu burung H5, sama seperti kurangnya kekebalan terhadap Covid-19 pada awalnya.

Namun, berbeda dengan Covid-19 yang mayoritas menyerang kelompok rentan, virus influenza berpotensi membunuh individu yang sehat, termasuk anak-anak.

“Pandemi flu burung kemungkinan besar akan cukup parah, bahkan berpotensi lebih parah daripada pandemi yang kita alami,” tambah Rameix-Welti di laboratoriumnya di Paris.

Baca Juga :  Menkes Budi Gunadi Pastikan Superflu Tak Semematikan Covid-19, Tangsel Masih Nol Kasus

Laporan terbaru WHO mencatat tingkat fatalitas yang mengerikan. Antara tahun 2003 dan 2025, telah terjadi hampir 1.000 kasus wabah pada manusia terutama di Mesir, Indonesia, dan Vietnam dengan 48% di antaranya meninggal dunia. Kasus infeksi manusia umumnya terjadi setelah kontak dekat dengan hewan yang terinfeksi, seperti kasus H5N5 pertama pada manusia yang muncul di negara bagian Washington, AS, bulan ini.

Meskipun ancaman ini nyata, risiko pandemi pada manusia saat ini masih dianggap rendah.

Gregorio Torres, kepala Departemen Sains di Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, menyarankan agar masyarakat tetap waspada tanpa panik.

Baca Juga :  Lonjakan 72 Kasus Baru dalam Sehari, Korban Jiwa Ebola di Kongo Tembus 181 Orang

“Kita perlu bersiap untuk merespons sedini mungkin. Namun untuk saat ini, kita bisa berjalan-jalan di hutan, makan ayam dan telur, dan menikmati hidup. Risiko pandemi memang mungkin terjadi. Namun dalam hal probabilitas, masih sangat rendah,” ujarnya kepada Reuters.

Rameix-Welti juga memberikan catatan optimis. Dia mengatakan, jika flu burung bermutasi hingga dapat menular antarmanusia, dunia akan jauh lebih siap dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

“Hal positif dari flu, dibandingkan dengan Covid, adalah kita memiliki langkah-langkah pencegahan khusus. Kita memiliki kandidat vaksin yang siap dan tahu cara memproduksi vaksin dengan cepat,” ujarnya. “Kita juga memiliki stok antivirus spesifik, yang pada prinsipnya akan efektif melawan virus influenza burung ini,” tambahnya.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber