NARASITODAY.COM, WASHINGTON, D.C. – Bintang sepak bola global, Cristiano Ronaldo, kini menjadi subjek kritik keras setelah ia difoto bersalaman dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Gedung Putih.
Pertemuan tersebut, yang terjadi hanya beberapa hari sebelum FIFA membatalkan sanksi yang melarang Ronaldo tampil di Piala Dunia musim panas mendatang di Amerika Utara, menimbulkan tuduhan bahwa sang legenda Portugal telah menjadi “bidak politik.”
Peristiwa ini menarik perhatian luas, menyoroti bagaimana pengaruh seorang pesepak bola bisa meluas hingga ke ranah politik internasional, terutama bagi figur sekelas Ronaldo yang memiliki jutaan pengikut di seluruh dunia.
Mantan penyerang Timnas Prancis, Louis Saha, menjadi salah satu pihak yang menyuarakan kekhawatiran terbesar. Saha memperingatkan bahwa dengan tampil bersama Trump, Ronaldo secara tidak langsung telah memberikan dukungan pada presiden yang sering memicu kontroversi.
Saha juga menduga adanya kemungkinan bahwa Ronaldo memanfaatkan pertemuan tersebut untuk meminta Trump memengaruhi FIFA agar mengurangi masa larangnya.
“Ya, menurut saya begitu. Cristiano Ronaldo masih pemain sepak bola paling berpengaruh di dunia. Saya tidak tahu apakah ia menyadari konsekuensi dari pertemuan itu, atau dampak yang bisa ditimbulkan,” kata Saha kepada Pundit Arena.
Saha menambahkan bahwa meskipun Ronaldo mungkin tidak bermaksud demikian, waktunya pertemuan tersebut sangat sensitif.
“Saya biasanya tidak berkomentar soal politik, tapi ini bisa dianggap sebagai dukungan terhadap beberapa kebijakan Trump, meskipun mungkin Ronaldo tidak bermaksud demikian. Mungkin waktu terbaik untuk melakukannya adalah di awal masa jabatan Trump, ketika kontroversi masih minim,” tambahnya.
Saha mengaku terkejut melihat Ronaldo mengambil langkah politik yang dinilai berisiko ini, mengingat reputasinya selama bertahun-tahun sebagai atlet murni.
“Saya terkejut Cristiano memilih melakukan ini. Ini hal baru untuknya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dalam kariernya. Saya ingat ia pernah mendorong dua botol minuman ringan di sebuah konferensi pers, dan hal itu menimbulkan kehebohan, jadi ia memang selalu memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dunia lebih luas,” ujarnya.
Pertemuan di Gedung Putih ini kini menjadi sorotan tajam, menguji batas-batas antara karir olahraga dan keterlibatan politik, serta potensi risiko kontroversi yang menyertai citra sang megabintang.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














