
NARASITODAY.COM, TEHERAN – Bau hangus bangunan pemerintah dan sisa gas air mata masih menyengat di pusat kota Teheran. Di bawah langit yang kelabu, jalanan yang biasanya bising kini berubah sunyi, menyisakan jejak grafiti perlawanan di dinding-dinding kota. Iran kini tengah berada di fase paling berdarah dalam beberapa dekade terakhir, dengan jumlah korban jiwa yang dilaporkan telah melampaui angka 2.000 orang hanya dalam waktu dua pekan.
Setelah berhari-hari dalam pemadaman komunikasi total, suara-suara dari dalam Iran mulai terdengar kembali. Melalui sambungan telepon yang terputus-putus, warga menggambarkan kota yang kini dipenuhi aparat keamanan dan mesin-mesin ATM yang hancur.
Data dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat mencatat angka yang mengerikan. Hingga Selasa (13/1/2026), sedikitnya 2.003 orang dilaporkan tewas. Angka ini mencakup 1.850 demonstran, 135 aparat pemerintah, sembilan anak-anak, dan sembilan warga sipil.
“Kami merasa ngeri, tetapi kami masih berpikir angka ini konservatif,” ujar Skylar Thompson dari HRANA. Ia menekankan bahwa jumlah korban ini mencapai empat kali lipat dari total korban protes Mahsa Amini tahun 2022, namun terjadi dalam durasi yang jauh lebih singkat.
Media pemerintah Iran akhirnya mulai mengakui adanya jatuh korban. Televisi negara menyebut otoritas memiliki “banyak martir” dan mengklaim penundaan rilis data disebabkan oleh kondisi “luka-luka yang mengerikan” pada para korban.
Apa yang dimulai sebagai kemarahan atas memburuknya ekonomi dengan cepat bertransformasi menjadi pemberontakan terbuka terhadap sistem teokrasi. Sasaran utama kemarahan massa adalah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Di sudut-sudut Teheran, teriakan “Kematian bagi Khamenei” menggema sebuah kalimat yang di negara itu bisa berarti tiket menuju tiang gantungan.
Ayatollah Khamenei sendiri tampil di televisi untuk memuji massa pro-pemerintah dan memberikan peringatan keras kepada Washington. “Ini adalah peringatan kepada para politisi Amerika untuk menghentikan tipu daya mereka dan tidak mengandalkan tentara bayaran pengkhianat,” tegas Khamenei.
Dari seberang samudra, Presiden AS Donald Trump memberikan dukungan terbuka kepada para demonstran melalui platform Truth Social. “Para patriot Iran, TERUSLAH BERPROTES – KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA KALIAN!!!” tulis Trump, seraya menjanjikan bahwa “BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN.”
Namun, pernyataan Trump ini langsung memicu reaksi keras dari Teheran. Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, langsung menunjuk hidung pemimpin AS dan sekutunya sebagai dalang kerusuhan. “Kami menyatakan nama-nama pembunuh utama rakyat Iran: 1- Trump 2- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu,” cetus Larijani.
Di tengah saling tuding antar-negara, lebih dari 16.700 orang kini mendekam di tahanan. Bayang-bayang hukuman mati menghantui mereka setelah Jaksa Agung Iran memperingatkan bahwa siapapun yang terlibat dalam aksi protes akan dianggap sebagai “musuh Tuhan.”
Kini, warga Iran hidup dalam kecemasan ganda yang terjepit di antara represi domestik yang brutal dan kemungkinan intervensi militer dari luar negeri.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













