NARASITODAY.COM, JAKARTA – Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans masih menjadi topik hangat di tengah publik dalam beberapa hari terakhir. Karya tersebut memuat kisah pribadi Aurelie tentang pengalaman traumatis yang ia alami sebagai korban child grooming saat berusia 15 tahun, yang dituliskan secara terbuka sebagai bagian dari proses pemulihan dirinya.
Seiring meningkatnya perhatian masyarakat, sebagian pembaca justru mulai berspekulasi mengenai tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita. Dugaan tersebut bahkan menyeret sejumlah nama, termasuk Roby Tremonti yang disebut-sebut merasa tersinggung dengan karakter bernama Bobby, serta memicu berbagai tebakan lain terkait sosok Jo, Mama Jo, Kelly, Milo, Zane, hingga Tom.
Menanggapi situasi tersebut, Aurelie Moeremans akhirnya menyampaikan sikapnya. Melalui akun Threads miliknya, ia memberikan imbauan tegas kepada para pembaca agar tidak berspekulasi berlebihan, terlebih sampai melakukan perundungan terhadap karakter yang ada dalam bukunya.
“Please… aku mau minta satu hal penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter di dalam buku ini, apalagi kalau masih sebatas tebakan,” tulis Aurelie pada Minggu (18/1).
Aurelie menegaskan bahwa berbagai asumsi yang beredar di media sosial belum tentu sesuai dengan kenyataan dan justru membuatnya merasa tidak nyaman sebagai penulis sekaligus penyintas.
“Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan jujur aku nggak enak bacanya,” lanjutnya.
Aktris Story of Kale: When Someone’s in Love itu kemudian kembali menekankan tujuan utama di balik penulisan Broken Strings. Menurutnya, buku tersebut bukan dimaksudkan untuk mengungkap atau mencari sosok nyata di balik cerita, melainkan untuk membagikan pengalaman, luka batin, serta perjalanan penyembuhan yang ia jalani.
“Fokus cerita ini bukan untuk mencari siapa-siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku ceritakan dengan jujur,” ungkap Aurelie.
Ia juga menyinggung kemungkinan adanya pihak yang secara pribadi mengaitkan dirinya dengan karakter tertentu dalam buku tersebut. Meski menghargai pandangan masing-masing individu, Aurelie menegaskan bahwa publik tidak seharusnya menyerang siapa pun hanya berdasarkan dugaan.
“Kalau ada yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu hak masing-masing. Kalian bebas berpendapat. Tapi kalau hanya menebak-nebak lalu menyerang, tolong jangan,” tegasnya.
Perempuan yang kini tengah menanti kelahiran anak pertamanya itu menutup pesannya dengan harapan agar ruang diskusi seputar Broken Strings tetap aman, nyaman, dan dipenuhi empati.
“Aku menulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru untuk di-bully. Aku menulis untuk membuka mata, meningkatkan awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi serupa. Mari jaga ruang ini tetap baik, aman, dan penuh empati,” tutupnya. (MG5)
Editor : Nathania
Sumber : insertlive.com














