Proyek Raksasa BioDIGS Ungkap Ribuan Mikroba Baru di Dalam Tanah

0
BioDIGS
Ilustrasi mikroba. Foto : Istock

BALTIMORE – Permukaan bumi yang kita pijak setiap hari, tersimpan sebuah semesta yang jauh lebih padat dan misterius daripada ruang angkasa. Sebuah konsorsium raksasa bernama BioDiversity and Informatics for Genomics Scholars (BioDIGS), yang melibatkan 150 ilmuwan dan mahasiswa di Amerika Serikat, kini tengah berupaya menembus tabir kegelapan mikroskopis tersebut.

Proyek ini bertujuan memetakan apa yang disebut para peneliti sebagai microbial dark matter atau “materi gelap mikroba” jutaan organisme yang hidup dalam tanah namun belum pernah teridentifikasi oleh sains. Hasil awalnya pun mencengangkan: lebih dari 1.000 strain bakteri baru ditemukan, meski jumlah itu hanyalah bagian kecil dari kekayaan tanah yang sebenarnya.

Tanah adalah lingkungan paling aktif secara biologis di Bumi, tetapi kita baru menyentuh sebagian kecil dari kehidupan yang ada di dalamnya,” ujar Michael Schatz, profesor genomika dari Johns Hopkins University, sebagaimana dikutip dari Phys.org.

Alih-alih hanya bekerja di dalam laboratorium steril, tim BioDIGS menjadikan seluruh negeri sebagai area riset. Mereka mengumpulkan sampel tanah dari 40 lokasi berbeda, mulai dari taman kota yang sibuk di Baltimore hingga hamparan padang rumput liar di Dakota. Sampel-sampel ini kemudian dibedah kode genetiknya menggunakan teknologi sekuensing DNA mutakhir, serupa dengan teknologi yang digunakan untuk memetakan genom manusia.

Baca Juga :  Aktivitas Pertambangan Logam Tanah Jarang Mengancam Ekosistem Sungai Mekong dan Kesehatan Masyarakat

Bagi para ilmuwan, kekosongan data mengenai 99 persen mikroorganisme tanah adalah tantangan besar yang tidak bisa diselesaikan sendirian.

“Kekosongan pengetahuan soal keragaman mikroba ini hanya bisa diisi dengan kerja sama jaringan ilmuwan dan mahasiswa di seluruh negeri,” tegas Schatz.

Baca Juga :  China Bantah Tuduhan Trump soal Ekspor Logam Tanah Jarang, Sebut Kebijakan Sah dan Wajar

Di balik kecanggihan teknologi DNA, proyek ini memiliki sisi humanis yang kuat. Mahasiswa dari berbagai latar belakang, termasuk dari universitas suku asli di North Dakota, ikut turun ke lapangan. Di United Tribes Technical College (UTTC), pengambilan sampel tanah menjadi momen emosional dan edukatif yang menghubungkan sains dengan nilai-nilai leluhur.

“Mahasiswa kami punya hubungan yang sangat dekat dengan tanah. Proyek ini memberi mereka kesempatan untuk memahami kehidupan mikroskopis yang menghuni tanah dan belajar secara holistik tentang bumi yang menopang kita,” kata Emily Biggane, dosen riset UTTC.

Baca Juga :  TikTok: Gudangnya Tren Baru, Mengapa Konten POV Begitu Populer?

Selain mengungkap rahasia ekosistem, BioDIGS adalah kawah candradimuka bagi generasi ilmuwan data masa depan. Mahasiswa tidak hanya mengambil tanah, tetapi juga terlibat dalam memindai dan mengidentifikasi gen-gen baru yang ditemukan.

Schatz mengakui peran krusial para mahasiswa ini dalam membangun referensi genom dunia.

“Mahasiswa bisa menjadi ilmuwan data yang sangat andal. Mereka membantu membangun referensi genom, memindai dan mengidentifikasi gen. Kami tahu kami tidak bisa melakukannya sendirian,” pungkasnya.

Laporan penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal Nature Genetics pada akhir Desember 2025 ini diharapkan menjadi pijakan baru dalam memahami bagaimana kehidupan di bawah tanah memengaruhi kesehatan manusia, ketahanan pangan, hingga mitigasi perubahan iklim di masa depan.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com