Viral Siomay hingga Abon Berbahan Ikan Sapu-sapu, Benarkah Aman Dikonsumsi?

0

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Jagat media sosial belakangan ramai membicarakan olahan makanan tak biasa, mulai dari siomay hingga abon yang disebut berbahan dasar ikan sapu-sapu. Kreasi ini menuai rasa penasaran, sekaligus kekhawatiran publik, mengingat ikan sapu-sapu dikenal hidup di perairan yang kerap tercemar, terutama di kawasan perkotaan.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Ikan sapu-sapu selama ini banyak ditemukan di sungai-sungai yang tercemar limbah, sehingga berpotensi membawa zat berbahaya ke dalam tubuh manusia jika dikonsumsi, terutama dalam jangka panjang.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi ikan yang berasal dari perairan tercemar. Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa bahaya utama bukan hanya pada ikannya, tetapi pada cemaran yang ikut masuk ke dalam tubuh ikan tersebut.

Baca Juga :  5 Keuntungan Mengonsumsi Buah Sawo untuk Kesehatan Jantung dan Pencernaan

“Kalau ikannya hidup di sungai yang tercemar, maka semua cemaran yang dimakan ikan itu juga ikut masuk. Logam berat tidak bisa dihilangkan hanya dengan dimasak,” jelas dr Nadia.

Menurutnya, ikan yang hidup di lingkungan tercemar berisiko mengandung logam berat dan zat toksik lain yang dapat terakumulasi di tubuh manusia. Dalam jangka panjang, paparan zat tersebut bisa berdampak serius bagi kesehatan.

Senada dengan Kemenkes, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) juga menegaskan bahwa ikan sapu-sapu yang hidup liar di sungai, seperti Sungai Ciliwung, tidak layak dikonsumsi. Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menyebut risiko kontaminasi logam berat dan bakteri patogen sangat tinggi pada ikan dari perairan tercemar.

Baca Juga :  Kontroversi Sewa Rahim untuk “Nitip” Kehamilan, Ramai Dipakai Artis Hollywood

“Risiko logam berat dan cemaran bakteri seperti E. coli sangat besar. Ini berbahaya jika dikonsumsi,” ujarnya.

Meski secara teori ikan sapu-sapu bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan apabila berasal dari budidaya terkontrol dan telah lolos uji laboratorium, kondisi tersebut sangat berbeda dengan ikan sapu-sapu hasil tangkapan liar dari sungai.

Hasudungan menjelaskan, ikan konsumsi di Indonesia seharusnya memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), termasuk batas aman cemaran logam berat seperti timbal, kadmium, merkuri, dan arsen. Jika ikan berasal dari sungai tercemar, kandungan zat-zat tersebut berpotensi melebihi ambang batas aman.

Baca Juga :  Coba Diet Makan Sekali Sehari, Pengalaman Pria Ini Jadi Sorotan

“Kalau dikonsumsi terus-menerus, dampaknya bisa berupa keracunan kronis, gangguan organ tubuh, hingga meningkatkan risiko kanker,” jelasnya.

Pemerintah pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur tren makanan viral tanpa mengetahui asal bahan bakunya. Mengolah ikan menjadi siomay, abon, atau makanan lain tidak serta-merta membuatnya aman jika sumber ikannya berasal dari perairan tercemar.

“Masalahnya bukan pada cara mengolah, tapi pada sumber ikan. Kalau sumbernya sudah tercemar, proses memasak tidak bisa menghilangkan logam berat,” tegas Hasudungan.

Dengan maraknya tren kuliner unik di media sosial, masyarakat diharapkan tetap bijak dan mengutamakan keamanan pangan demi kesehatan jangka panjang. (MG3)

 

Editor : Mutiara

Sumber : detikHealth