NARASITODAY.COM, JAKARTA – Metode diet One Meal A Day (OMAD) kembali menarik perhatian setelah seorang pria membagikan pengalamannya menjalani pola makan tersebut selama satu minggu. Diet ini mengatur seseorang untuk hanya makan satu kali dalam sehari, sementara sisa waktunya diisi dengan puasa dan konsumsi minuman tanpa kalori.
Seorang pegiat kebugaran bernama Will Tennyson mencoba langsung metode OMAD dan mendokumentasikan pengalamannya. Ia mengaku penasaran dengan dampak diet ini terhadap tubuhnya, tanpa menargetkan penurunan atau kenaikan berat badan tertentu.
Di hari-hari awal, Tennyson masih mampu menjalani aktivitas olahraga seperti biasa. Namun, jarak waktu yang panjang antara latihan dan waktu makan mulai terasa berat. Rasa lelah berlebih muncul, terutama saat harus beraktivitas fisik dalam kondisi perut kosong terlalu lama.
Memasuki pertengahan minggu, tantangan semakin terasa. Ia mengaku sering memikirkan makanan dan meningkatkan konsumsi kopi untuk menahan rasa lapar. Dari sisi sosial, pola makan ini juga dinilai menyulitkan karena tidak bisa makan bersama teman atau mengikuti agenda makan seperti biasanya.
Menariknya, di hari kelima, tubuh mulai beradaptasi. Tennyson mulai bisa membedakan antara rasa lapar sesungguhnya dan keinginan makan karena kebiasaan. Ia juga menyadari bahwa sebagian rasa lapar dapat diatasi dengan minum air putih.
Di akhir percobaan, berat badannya tercatat turun sekitar 1,7 kilogram. Meski demikian, ia menilai diet OMAD sangat menantang dan sulit dijalani dalam jangka panjang. Menurutnya, metode ini terasa terlalu ekstrem dan tidak berkelanjutan bagi kebanyakan orang.
Para ahli kesehatan pun mengingatkan bahwa meski OMAD berpotensi membantu penurunan berat badan, pola makan ini memiliki risiko jika tidak dilakukan dengan pengawasan. Diet ekstrem dapat memicu rasa lapar berlebihan, gangguan metabolisme, hingga masalah kesehatan lain jika dijalani tanpa perencanaan yang tepat. (MG3)Â
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth














