Iran Peringatkan AS Siap Hadapi Perang di Tengah Gelombang Protes

0
Iran
Ilustrasi bendera iran. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TEHERAN – Di bawah langit Teheran yang mulai dibekap kesunyian akibat pemadaman internet total, genderang perang kembali ditabuh. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat: Iran siap menghadapi perang jika Washington benar-benar memilih jalur militer di tengah gelombang protes domestik yang kian berdarah.

Situasi di Negeri Para Mullah ini kini berada di titik nadir. Sementara ribuan demonstran memenuhi jalanan menuntut perubahan sistemik, di ruang-ruang kekuasaan, para pemimpin Iran sedang bersiap menghadapi kemungkinan konfrontasi terbuka dengan pemerintahan Donald Trump.

Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera Arabic, Senin (12/1/2026), Araghchi menegaskan bahwa militer Iran kini jauh lebih siap dibandingkan saat perang 12 hari tahun lalu. Ia menanggapi pernyataan Trump yang mulai menimbang “opsi keras” terhadap Iran sebagai respons atas tindakan aparat terhadap demonstran.

Baca Juga :  HUT KORPRI ke-56 di Kecamatan Sukajaya Jadi Momentum Tingkatkan Profesionalisme ASN dan PPPK

“Jika Washington ingin menguji opsi militer yang sebelumnya sudah pernah diuji, kami siap menghadapinya,” tegas Araghchi.

Meski demikian, ia menyisipkan sedikit harapan agar AS memilih jalur dialog daripada menyerah pada desakan pihak luar.

“Kami berharap Washington memilih opsi yang bijak, yakni dialog… (ada pihak) yang berupaya menyeret Washington ke dalam perang demi melayani kepentingan Israel,” tambahnya.

Ironisnya, di balik retorika perang yang membara, jalur komunikasi rahasia ternyata belum sepenuhnya putus. Araghchi mengungkapkan bahwa ia masih terus berkomunikasi dengan Utusan Khusus AS, Steve Witkoff. Namun, ia merasa ada ketidaksinkronan antara tawaran meja perundingan dengan ancaman militer yang dilempar Trump.

Baca Juga :  Olahraga Tradisional Merapat! Pacu Jalur Berpeluang Jadi Cabor Fornas Berikutnya

Donald Trump sendiri tampak memainkan strategi dua kaki. Di satu sisi, ia menyiapkan serangan, namun di sisi lain ia berencana membahas program nuklir.

“Kami sedang menyiapkan pertemuan untuk bernegosiasi mengenai program nuklir, tetapi kami mungkin harus bertindak karena apa yang terjadi sebelum pertemuan itu,” ujar Trump, Minggu (11/1).

Di lapangan, penderitaan warga sipil kian nyata. Lembaga pemantau NetBlocks melaporkan Iran telah mengalami “mati lampu” informasi selama 96 jam akibat pemadaman internet sejak Kamis lalu. Di tengah kegelapan informasi tersebut, korban jiwa terus berjatuhan.

Baca Juga :  DPR Wanti-wanti Gejolak Lebaran Akibat Perang Timur Tengah

Media pemerintah mengklaim lebih dari 100 personel keamanan tewas akibat “unsur teroris”, sementara aktivis oposisi menyebut jumlah demonstran yang tewas jauh lebih besar. Araghchi berjanji internet akan segera dipulihkan setelah koordinasi dengan aparat keamanan selesai.

Ketegangan ini diperuncing oleh pernyataan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia memberikan peringatan terakhir bahwa militer AS dan Israel akan menjadi “target yang sah” jika terjadi intervensi asing.

Kini, dunia hanya bisa menunggu. Apakah “ide-ide” yang sedang dipelajari di Teheran akan berujung pada kesepakatan nuklir yang adil, ataukah Selat Hormuz dan fasilitas nuklir Iran akan kembali menjadi saksi bisu dentuman bom seperti tahun lalu?***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com