Perundingan Damai Ukraina-Rusia di Jenewa Berlanjut di Tengah Serangan Udara

0
senjata
Ilustrasi bendera ukraina dan rusia. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JENEWA – Hari pertama perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat antara Ukraina dan Rusia di Jenewa, Swiss, berakhir dengan ketegangan dan ketidakpastian. Negosiator dari kedua belah pihak mengakhiri sesi yang berlangsung selama enam jam, dengan harapan untuk melanjutkan dialog hari kedua, yang akan menjadi hari terakhir.

Melansir Reuters, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Kyiv agar bergerak cepat dalam mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat tahun ini. “Ukraina harus datang ke meja perundingan dengan cepat. Itu saja yang saya katakan,” tegas Trump di dalam Air Force One.

Sementara itu, di tengah perundingan, Rusia melancarkan serangan udara semalaman ke beberapa wilayah Ukraina. Serangan ini merusak jaringan listrik di kota pelabuhan Odesa secara parah, menyebabkan puluhan ribu warga kehilangan akses pemanas dan air.

Baca Juga :  Perang Sudan Terus Berlanjut, Puluhan Warga Luka-luka dan Tewas Akibat Serangan RSF

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan, “Kami siap bergerak cepat menuju kesepakatan yang layak untuk mengakhiri perang,” dalam pidato malamnya. Ia menambahkan, “Masih menunggu laporan dari tim perunding di Jenewa. Pertanyaannya untuk Rusia adalah: sebenarnya apa yang mereka inginkan?”

Ketua tim negosiasi Ukraina, Rustem Umerov, menyebut hari pertama pembicaraan berfokus pada isu-isu teknis dan mekanisme keputusan, tanpa merinci detailnya. Ia menegaskan bahwa negosiasi akan dilanjutkan hari ini, Rabu, sebagai hari terakhir. Sementara itu, pejabat Rusia belum memberikan komentar resmi, meski media Rusia melaporkan suasana yang sangat tegang selama pertemuan bilateral dan trilateral tersebut.

Perundingan ini merupakan lanjutan dari dua putaran sebelumnya yang dimediasi AS di Abu Dhabi, yang hingga kini belum menghasilkan terobosan berarti. Kedua pihak masih berselisih tajam, terutama terkait kendali wilayah di Ukraina timur, termasuk tuntutan Rusia agar Kyiv menyerahkan sekitar 20% wilayah Donetsk yang belum berhasil diduduki.

Baca Juga :  Melania Trump Tegaskan Jauh dari Kasus Epstein dan Desak Transparansi

Kehadiran negara-negara Eropa di Jenewa juga menambah dinamika diplomasi ini. Meski tidak terlibat langsung dalam perundingan trilateral, mereka diundang oleh Zelenskiy untuk memberi dukungan dan meningkatkan tekanan terhadap Rusia melalui sanksi dan pengiriman tambahan senjata.

“Seseorang seharusnya tidak sepenuhnya mempercayai Rusia, bahkan sedikit pun tidak,” kata Oksana Reviakina, warga Melitopol yang mengungsi ke Kyiv, saat berlindung di stasiun metro karena sirene serangan udara.

Selain tekanan politik, pertempuran di lapangan tetap berlangsung. Rusia menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina, termasuk Crimea dan sebagian wilayah Donbas, yang direbut sebelum invasi besar-besaran dimulai pada Februari 2022. Serangan udara terbaru ke infrastruktur energi menyebabkan ratusan ribu warga Ukraina kehilangan pemanas dan listrik saat musim dingin yang keras melanda.

Baca Juga :  Operasi Militer Pakistan di Balochistan Hadapi Serangan Bom Bunuh Diri, Banyak Korban Tewas dan Luka

Di tengah ketegangan, Zelenskiy menyerukan sekutu Ukraina agar menambah tekanan terhadap Rusia dengan sanksi yang lebih keras dan suplai senjata yang lebih besar demi mencapai perdamaian yang nyata dan adil.

“Perang ini belum berakhir, dan kita harus terus berjuang untuk masa depan yang damai,” ujarnya.

Perundingan di Jenewa ini berlangsung menjelang peringatan empat tahun invasi Rusia ke Ukraina, yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan menghancurkan banyak kota serta desa di negara tersebut.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber