Warga Gaza Bangun Perpustakaan Phoenix dari Buku yang Diselamatkan di Tengah Hancurnya Perang

0
Gaza
Di tengah puing-puing bangunan yang rata oleh perang di Gaza, seorang warga bernama Omar Hamad memilih menyelamatkan sesuatu yang tak kasat mata: ilmu pengetahuan.Foto : inilah.com

NARASITODAY.COM, GAZA – Hantaman perang yang meratakan bangunan-bangunan di Gaza, seorang warga bernama Omar Hamad memilih untuk menyelamatkan “jiwa” yang tak kasat mata. Di saat kebutuhan primer mendesak, Omar justru mendirikan sebuah perpustakaan sebuah oase ilmu yang ia bangun dari reruntuhan.

Jangan bayangkan sebuah perpustakaan dengan tembok kokoh dan rak-rak berjejer rapi. Perpustakaan yang diberi nama “Phoenix Library” itu lahir dari inisiatif Omar yang mengais buku sambil mengungsi dari satu tempat ke tempat lain.

Ia tengah mengakselerasi pendirian perpustakaan pertama di Gaza pasca-kehancuran, sebuah upaya mempertahankan pendidikan di tengah krisis kemanusiaan.

“Sebagai permulaan, dengan perpustakaan pribadi saya sendiri yang saya bawa sejak hari pertama genosida hingga saat ini saya mengungsi sebanyak 12 kali bersama perpustakaan itu,” kata Omar dikutip dari The Jordan Times, Sabtu (28/2/2026).

Misi Penyelamatan di Bawah Serangan

Baca Juga :  Antisipasi Kebocoran Subsidi, Pemerintah Tetapkan Harga LPG 3 Kg Seragam

Meski serangan Israel masih terjadi hingga saat ini, hal itu tak menyurutkan tekad Omar untuk menyelamatkan buku. Didampingi dua rekannya, ia berkeliling memungut buku-buku yang masih layak baca dari perpustakaan-perpustakaan yang hancur, membawanya menggunakan tas dan gerobak keledai.

Salah satu misi awalnya adalah menyelamatkan koleksi dari Perpustakaan Edward Said di Beit Lahia.

Perpustakaan itu milik pemiliknya, penulis Musab Abu Toha, tetapi dia meninggalkan Gaza pada awal genosida, dan rumah serta perpustakaannya hancur,” kata Omar mengenai kondisi memprihatinkan salah satu pusat literasi itu.

Namun, perjuangan Omar tak hanya melawan artileri perang, tetapi juga realitas kelaparan. Ia menuturkan pengalaman memilukan saat mendatangi perpustakaan di Universitas Islam Gaza. Di sana, ia menyaksikan warga mengambil buku-buku bukan untuk dibaca, melainkan untuk dijadikan bahan bakar api memasak.

“Di perpustakaan universitas, orang-orang mulai mengambil buku untuk digunakan dalam memasak. Saya dan saudara-saudara saya pergi ke sana dan menyelamatkan banyak buku, beberapa berusia lebih dari 100 tahun,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kejadian Banjir di Klapanunggal: Tanggul Jebol, Warga Terpaksa Dievakuasi

Omar mengakui dilema berat yang ia hadapi. Di tengah paceklik gas dan kayu bakar, ia tak sampai hati melarang warga yang terpaksa membakar buku untuk bertahan hidup.

“Dulu saya sering memungut buku-buku dari sana untuk menyelamatkannya, sementara orang-orang mengambilnya untuk menyalakan api untuk memasak. Saya tidak mampu memberi tahu mereka bahwa buku-buku ini berharga; kata-kata saya tidak akan berarti apa-apa dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami, tanpa gas atau kayu bakar,” tuturnya dengan nada berat.

Menghidupkan Kembali Ilmu dari Abu

Bagi Omar, hilangnya perpustakaan dan buku adalah bentuk penghapusan jiwa dan pengetahuan. Melalui Phoenix Library, ia berkomitmen untuk tidak hanya menyelamatkan sisa-sisa koleksi, tetapi juga mencetak lebih banyak buku di masa depan.

Baca Juga :  Jerman Stop Kirim Peralatan Militer yang Bisa Digunakan Israel di Gaza

“Saya berencana untuk menggunakan buku-buku ini, dan saya juga ingin mencetak lebih banyak buku lagi, termasuk buku anak-anak. Akan ada juga bagian khusus untuk seni visual, yang menampilkan karya-karya seniman Gaza yang melukis selama genosida,” bebernya.

Hingga saat ini, Phoenix Library telah berhasil mengamankan beragam koleksi, mulai dari novel hingga buku teks pendidikan, menjadi penanda bahwa harapan tidak pernah sepenuhnya padam.

“Ada banyak jenis buku yang saya selamatkan. Sebagian besar adalah novel dari sastra Rusia, serta buku teks pendidikan dalam mata pelajaran seperti fisika dan kimia,” kata Omar.

“Tersedia juga buku-buku Islam dari empat imam yaitu Ahmad ibn Hanbal, Anas ibn Malik, Al Shafi’i, dan Al Hanafi. Selain itu, ada novel fiksi seperti Harry Potter, The Lord of the Rings, dan banyak lainnya,” pungkasnya.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com