NARASITODAY.COM, JAKARTA – Dinding panjat yang biasanya menjadi simbol ketangguhan dan prestasi, kini sedang dibayangi cerita kelam. Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid, menyatakan perang terbuka terhadap segala bentuk pelecehan seksual dan kekerasan fisik di lingkungan olahraga tersebut.
Ketegasan ini muncul setelah terduga pelaku, Hendra Basir, resmi dilaporkan ke Mabes Polri oleh lima orang korban. Langkah hukum ini diambil mengingat kasus tersebut bersifat khusus, sensitif, dan telah berlangsung selama bertahun-tahun di bawah radar federasi.
Menutup Pintu Rekonsiliasi
Yenny Wahid menegaskan bahwa FPTI tidak akan memberikan celah sedikit pun bagi upaya damai atau mediasi. Baginya, keselamatan atlet adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan sekadar kata maaf.
“Rekonsiliasi itu kalau dua-duanya enggak salah. Kalau satunya penjahat, ya, apalagi terduga predator, tidak ada ruang bagi kami untuk bisa menerima orang semacam itu, karena bisa mengancam keselamatan dari para atlet kita,” ujar putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid tersebut dengan nada bicara yang berwibawa.
Meski jalur hukum di Kepolisian telah berjalan, Tim Pencari Fakta (TPF) bentukan FPTI tetap bekerja untuk mendalami kebenaran materiil tanpa mencampuri ranah penyidikan Mabes Polri.
Keberanian yang Memecah Kebisuan
Di balik laporan polisi tersebut, tersimpan luka lama yang terpendam. Yenny mengungkapkan rasa haru sekaligus sedih karena praktik culas ini baru terungkap sekarang setelah para korban memberanikan diri untuk bersuara.
“Sekarang saya melihat (atlet) lebih lega ya. Mereka ini butuh keberanian besar untuk bisa keluar, untuk bisa mendobrak perlakuan tidak menyenangkan yang telah mereka terima selama ini, selama bertahun-tahun,” tuturnya.
Yenny mengaku terpukul atas durasi kejahatan yang menimpa anak asuhnya. “Saya sendiri sedih karena kok baru sekarang. Jadi kalau saja saya tahu dari awal, saya sih enggak akan kasih toleransi sama sekali,” tambahnya.
Pahlawan di Balik Laporan
Yenny memandang para pelapor bukan sekadar korban, melainkan pahlawan yang telah menyelamatkan masa depan panjat tebing Indonesia. Solidaritas luar biasa juga ditunjukkan oleh para atlet putra yang secara kolektif melindungi rekan putri mereka agar berani berbicara.
“Saya sedih, tapi saya juga bangga dengan atlet karena mereka berani mengambil tindakan untuk mengubah nasibnya sendiri. Ya, mereka berani untuk melawan kesewenang-wenangan, perlakuan tidak adil, perlakuan kejahatan yang telah menimpa mereka. Mereka berani melawan itu. Jadi atlet-atlet yang telah berani melapor ini buat saya pahlawan,” ungkap Yenny.
Solidaritas ini, menurut Yenny, adalah pemicu utama terbongkarnya kasus ini. Ia berharap langkah berani ini menjadi titik balik agar dunia olahraga nasional menjadi lebih bersih dan memiliki martabat tinggi.
“Dan saya juga bangga dengan solidaritas para atlet, karena para atlet putra pasang badan untuk melindungi para atlet putri. Itu salah satu pemicu utamanya. Itu kan luar biasa banget. Jadi saya salut ke semua para atlet panjat tebing. Hebat. Ini mengubah wajah dari olahraga di Indonesia supaya bisa lebih bermartabat lagi ke depannya,” tegasnya menutup pernyataan.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com













