Memutus Rantai Impor: Ambisi Bahlil Wujudkan Kemandirian Energi di Meja Presiden

0
Bahlil
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Foto : dok.Ist

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan laporan terbaru mengenai status ketahanan energi nasional kepada Presiden RI Prabowo Subianto.

Dalam laporannya di Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Bahlil menegaskan bahwa Indonesia saat ini tidak mengimpor produk bahan bakar minyak (BBM) jadi dari kawasan Timur Tengah. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar impor dari Timur Tengah hanyalah berupa minyak mentah (crude oil), yang porsinya sekitar 20% dari total impor energi.

“Yang kita impor sebenarnya dari Middle East itu apa? Kita tidak melakukan impor produk jadi dari Middle East. Yang kita impor dari sana adalah crude-nya. Jadi minyak mentahnya itu 20% memang dari Middle East,” ujar Bahlil, menegaskan posisi Indonesia dalam rantai pasok energi global.

Baca Juga :  Penambangan Ilegal di Muara Enim Berhasil Ditutup, Puluhan Pelaku Terancam Denda Administratif

Lebih jauh, Bahlil menjelaskan bahwa kebutuhan domestik akan produk BBM jadi, seperti solar, saat ini sudah mampu dipenuhi dari dalam negeri. Hal ini berkat dukungan program pencampuran biodiesel dan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang baru saja diresmikan. Proyek tersebut diklaim mampu mengurangi ketergantungan impor bensin sebesar 5,5 juta ton dan solar sekitar 3,5 juta ton per tahun.

Baca Juga :  Laksanakan Arahan Bupati Bogor Rudy Susmanto, Jaro Ade Pastikan Penanganan Bencana di Sukamakmur dan Pelayanan Publik di RSUD Cileungsi Lancar

“Saat ini, yang masih diimpor adalah bensin. Pasokan bensin tersebut didatangkan dari negara tetangga, yaitu Malaysia dan Singapura,” kata Bahlil. Ia menambahkan bahwa selain dari Timur Tengah, Indonesia juga mengimpor minyak mentah dari berbagai negara seperti Angola, Nigeria, Brasil, Amerika Serikat, dan Malaysia, dengan porsi sekitar 80%.

Dalam wawancara santai seusai sidang, Bahlil menyampaikan optimisme terhadap pengembangan industri kilang dalam negeri. Ia menegaskan bahwa ke depan, seluruh produk BBM jadi harus diproduksi secara mandiri di Indonesia.

“Ke depan memang tidak ada cara lain selain mengembangkan refinery kita, kilang-kilang kita, agar semua bisa diproduksi di dalam negeri. Kalau lifting kita tidak mencapai 1,6 juta barel per hari, maka selisih antara kebutuhan crude dan kemampuan lifting itulah yang akan kita impor. Jadi, ke depan, yang kita impor hanyalah crude saja,” tuturnya.

Baca Juga :  Menteri Keuangan Ungkap Harga Pertalite Saat Ini Tak Sesuai Keekonomian

Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan impor produk jadi, sekaligus mendorong pengembangan industri hilir minyak nasional. Dengan komitmen tersebut, Indonesia berharap dapat mencapai swasembada energi yang berkelanjutan dan meningkatkan kemandirian ekonomi nasional.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com