NARASITODAY.COM, BEIJING – Di tengah ladang-ladang gandum yang mulai menghijau di daratan China, sebuah kebijakan sunyi namun berdampak masif sedang bekerja. Beijing kembali memperketat keran ekspor pupuknya, sebuah langkah proteksionisme yang memicu kekhawatiran akan krisis pangan global yang lebih dalam.
Langkah ini diambil saat dunia masih tertatih menghadapi gangguan pasokan akibat perang Amerika Serikat-Israel di Iran, yang telah melumpuhkan jalur pelayaran krusial di Selat Hormuz.
Skala Pembatasan yang Masif
China, yang mencatatkan nilai ekspor pupuk lebih dari US$ 13 miliar tahun lalu, kini memilih untuk “mengamankan rumah sendiri”. Berdasarkan laporan yang dihimpun, Beijing secara informal telah melarang ekspor campuran nitrogen-kalium serta varietas fosfat tertentu sejak pertengahan Maret.
Analisis data menunjukkan bahwa antara 50% hingga 75% volume ekspor China tahun lalu kini berada dalam status dibatasi. Ini berarti potensi hilangnya hingga 40 juta metrik ton pasokan dari pasar internasional.
“Pola ini konsisten dari China membatasi pasokan daripada memberikan bantuan selama krisis global,” ujar Matthew Biggin, analis komoditas senior di BMI, Jumat (20/3/2026).
Menurut Biggin, kebijakan ini didorong oleh keseimbangan domestik yang sangat ketat. “China memprioritaskan ketahanan pangan dan melindungi pasar domestik mereka dari guncangan harga.”
Efek Domino ke Petani Dunia
Harga urea internasional telah meroket sekitar 40% dibandingkan level sebelum perang. Bagi negara-negara agraris seperti Indonesia, Brasil, dan India, kebijakan Beijing ini adalah kabar buruk. Tahun lalu, Indonesia mengandalkan China untuk sekitar seperlima dari total impor pupuknya.
Di New Delhi, kecemasan mulai terasa. India, yang mengimpor lebih dari 40% urea dan DAP dari Timur Tengah, sebelumnya berharap China bisa menjadi penopang saat jalur Selat Hormuz terganggu.
“Para pembeli berharap China akan turun tangan dan mengisi kesenjangan pasokan, tetapi keputusan ini hanya akan semakin memperketat pasokan,” ungkap seorang pejabat perusahaan pupuk di New Delhi yang meminta anonimitas.
Menanti Sinyal dari Beijing
Hingga saat ini, lembaga otoritas China seperti Badan Bea Cukai dan Kementerian Perdagangan masih bungkam. Namun, para pelaku industri di lapangan pesimistis pembatasan ini akan berakhir dalam waktu dekat.
Dalam sebuah konferensi pupuk di Shanghai pekan ini, sejumlah tenaga penjualan memperkirakan larangan tersebut tidak akan dicabut sebelum Agustus mendatang, melewati masa puncak ekspor biasanya.
Caitlin Welsh, Direktur di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), menilai bahwa motivasi utama Beijing adalah stabilitas internal yang absolut.
“China sangat enggan untuk melakukan apa pun yang akan meningkatkan harga biji-bijian, terutama pakan ternak, di dalam negeri,” pungkas Welsh.
Bagi petani di berbagai belahan dunia, terkuncinya gerbang ekspor China berarti satu hal: biaya tanam yang lebih mahal dan ancaman hasil panen yang menyusut di musim mendatang.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














