NARASITODAY.COM, ANTANANARIVO – Di sebuah negara yang didera kemiskinan kronis dan sejarah panjang elit yang korup, Presiden Madagaskar Michael Randrianirina mencoba sebuah eksperimen politik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mulai pekan ini, setiap calon menteri yang ingin duduk di kabinet baru wajib melewati satu rintangan terakhir: mesin detektor kebohongan atau poligraf.
Langkah kontroversial ini diambil Randrianirina setelah ia membubarkan seluruh kabinetnya pada 9 Maret lalu tanpa penjelasan rinci. Sang Presiden, yang naik takhta melalui kudeta militer Oktober tahun lalu, kini berada di bawah tekanan besar dari gerakan anak muda “Gen Z Madagascar” yang menuntut pembersihan total unsur-unsur rezim lama.
Integritas di Balik Kabel Poligraf
Randrianirina menegaskan bahwa penggunaan teknologi ini bukan sekadar gimik, melainkan instrumen penyaring integritas. Baginya, janji setia di bawah sumpah tidak lagi cukup untuk menjamin kejujuran seorang pejabat.
“Kami telah memutuskan untuk menggunakan poligraf. Dengan poligraf inilah pemeriksaan integritas latar belakang akan dilakukan,” tegas Randrianirina kepada media lokal, Kamis (20/3/2026).
Bersama Perdana Menteri baru yang juga Kepala Lembaga Anti Korupsi, Mamitiana Rajaonarison, sang Presiden akan mewawancarai langsung para kandidat yang berhasil lolos tes alat tersebut. Targetnya pun spesifik ia tidak mencari malaikat, melainkan mereka yang memiliki kadar kejujuran di atas rata-rata.
“Kami tidak mencari seseorang yang 100% bersih, tetapi di atas 60%. Dengan begitu, Madagaskar akhirnya akan bisa berkembang,” tambahnya. “Kami akan tahu siapa yang korup dan siapa yang bisa membantu kami, siapa yang akan mengkhianati perjuangan kaum muda.”
Harapan yang Dibayangi Skeptisisme
Gebrakan ini memicu reaksi beragam. Di satu sisi, para aktivis muda mengakui adanya perubahan arah dibandingkan era kepemimpinan Andry Rajoelina yang telah tumbang. Namun, efektivitas penggunaan mesin poligraf sebagai penentu nasib bangsa justru dipandang sebelah mata oleh sebagian pihak.
Seorang pengelola akun media sosial Gen Z Madagascar menyebut metode ini tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat untuk menentukan moralitas seseorang.
“Itu bahkan tidak terbukti secara ilmiah bisa bekerja. Bagi saya ini hanya lelucon dan memalukan,” ungkap pengelola akun tersebut. Meski skeptis terhadap alatnya, ia mengakui kondisi saat ini lebih baik: “Secara umum saya pikir rezim ini sudah lebih baik daripada rezim Andry Rajoelina.”
Taruhan Besar di Negara Kaya Sumber Daya
Madagaskar saat ini berada di persimpangan jalan. Meski kaya akan vanila dan permata berharga, negara ini terpuruk di peringkat 148 dari 180 negara dalam indeks persepsi korupsi global tahun 2025. Dengan PDB per kapita hanya US$ 545, rakyat Madagaskar menaruh harapan besar pada kabinet baru yang dijadwalkan akan diumumkan awal minggu depan.
Apakah kabel-kabel poligraf mampu mendeteksi niat busuk para calon pejabat, ataukah ini hanya sekadar teatrikal politik baru? Rakyat Madagaskar, terutama kaum mudanya yang telah mengorbankan 22 nyawa dalam protes tahun lalu, kini tengah menunggu jawaban tersebut.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














