NARASITODAY.COM, JAKARTA – Setiap tanggal 2 April, dunia sejenak menoleh ke masa lalu untuk merayakan masa depan. Hari ini, masyarakat global memperingati Hari Buku Anak Sedunia (International Children’s Book Day), sebuah momentum yang tidak hanya merayakan lembaran kertas penuh ilustrasi, tetapi juga menghormati napas kreativitas yang diwariskan oleh sang maestro dongeng asal Denmark, Hans Christian Andersen.
Peringatan yang jatuh tepat pada hari lahir Andersen (2 April 1805) ini menjadi pengingat bahwa sebuah cerita sederhana mampu melintasi batas negara, budaya, dan usia.
Jejak Sang Legenda: Dari Kemiskinan menuju Klasik Dunia
Pemilihan tanggal 2 April bukanlah tanpa alasan. Hans Christian Andersen adalah bukti nyata bahwa imajinasi tidak mengenal kelas sosial. Lahir di Odense dari keluarga sederhana, Andersen sempat mencoba peruntungan sebagai aktor di Kopenhagen sebelum akhirnya menemukan jati dirinya sebagai penulis.
Meski kini dikenal lewat karya abadi seperti The Little Mermaid dan The Emperor’s New Clothes, perjalanan Andersen tidaklah mulus. Selama berdekade-dekade, karyanya sempat diabaikan oleh kritikus sebelum akhirnya meledak di pasar internasional pada 1845. Jejaknya bahkan menginspirasi penulis besar Inggris seperti Charles Dickens hingga Beatrix Potter.
Kini, semangat itu diteruskan melalui organisasi International Board on Books for Young People (IBBY) yang telah menginisiasi perayaan ini sejak 1967.
Tahun ini, peringatan Hari Buku Anak Sedunia mengusung tema yang puitis namun sarat pesan ekologis: “Plant stories and the world will bloom” atau “Tanamlah cerita dan dunia akan mekar”.
Tema ini menyoroti bagaimana kekuatan literasi mampu menumbuhkan kesadaran anak-anak untuk membuat pilihan hidup yang lebih ramah lingkungan. Pesan tahun ini datang dari Siprus, melalui puisi karya Elena Perikleous dan poster artistik buatan Sandra Elephteriou yang dipilih melalui kompetisi anonim di puluhan sekolah.
UNESCO Body and Mind Wellness turut menekankan bahwa literatur berkualitas adalah pupuk utama bagi kreativitas anak.
“Hari Buku Anak Sedunia merupakan momen yang menekankan pentingnya literatur berkualitas tinggi yang menumbuhkan kreativitas anak. Peringatan ini juga menyoroti kecintaan membaca yang menyatukan anak-anak di seluruh dunia,” tulis laman resmi lembaga tersebut.
Lebih dari Sekadar Membaca
Peringatan ini bukan hanya soal mengenang Andersen, melainkan apresiasi terhadap keberagaman karakter dan tema dalam buku anak modern. Literasi dipandang sebagai jembatan yang menyatukan anak-anak di Skandinavia, Amerika, hingga Asia.
Melalui buku, anak-anak diajak untuk mengenal dunia tanpa harus beranjak dari tempat duduknya. Sebagaimana misi perayaan ini, menumbuhkan minat baca sejak dini adalah investasi jangka panjang untuk perkembangan mental dan empati generasi mendatang.
Sesuai dengan temanya, hari ini dunia diingatkan kembali yaitu jika kita menanamkan cerita yang baik di kepala anak-anak hari ini, maka masa depan dunia akan mekar dengan lebih indah.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com













