Status Selat Hormuz Masih Misterius Setelah Iran Tutup Sementara, Ada Apa di Baliknya?

0
Iran
Ilustrasi Selat Hormuz.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TEHERAN – Harapan dunia akan kedamaian di Timur Tengah kembali teruji. Hanya berselang sehari setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran disepakati, ketegangan justru kembali memuncak. Iran secara mengejutkan memutuskan untuk kembali menutup Selat Hormuz setelah menilai kesepakatan damai tersebut dinodai oleh aksi militer Israel di Lebanon.

Langkah drastis ini dipicu oleh serangan besar-besaran Israel ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026) yang menewaskan 254 orang. Bagi Teheran, Lebanon adalah bagian tak terpisahkan dari napas gencatan senjata, namun Tel Aviv bersikeras bahwa wilayah tersebut tidak termasuk dalam klausul perjanjian dengan Washington.

Labirin di Antara Pulau Larak

Sebelum palang pintu Selat Hormuz benar-benar dikunci, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sempat menunjukkan sisi taktis mereka. Melalui laporan Fars News, IRGC sempat menawarkan “pintu darurat” bagi kapal-kapal tanker yang terjebak dalam disrupsi pelayaran global ini.

Baca Juga :  Sejarah dan Tradisi Jumat Agung dalam Perayaan Tri Hari Suci Paskah

Jalur alternatif tersebut mengarahkan kapal-kapal untuk melintasi sisi utara Pulau Larak di Laut Oman jika ingin memasuki Teluk Persia, dan menyusuri sisi selatan pulau tersebut untuk jalur keluar. Pulau Larak, yang terletak dekat daratan utama Iran, kini menjadi titik navigasi krusial di tengah bayang-bayang ancaman militer.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. IRGC mencium adanya risiko tinggi di jalur pelayaran utama yang selama ini menjadi urat nadi energi dunia.

“Mengingat kemungkinan adanya berbagai ranjau anti kapal di jalur pelayaran utama Selat Hormuz, dengan ini kami memberitahukan kepada semua kapal yang bermaksud melewati Selat Hormuz sebagai berikut,” tulis pernyataan resmi IRGC yang menyertakan panduan rute Pulau Larak.

Baca Juga :  BMKG Ingatkan Potensi El Nino dan Dampaknya pada Musim Kemarau 2026

Peta Bahaya dan Ruang Sempit

Dalam peta navigasi yang dirilis, IRGC membentangkan peringatan tegas. Sebuah lingkaran besar bertuliskan “zona bahaya” dalam aksara Persia terpampang di atas zona Traffic Separation Scheme (TSS), jalur tradisional yang biasanya dilalui ribuan kapal setiap tahunnya.

Peta tersebut memaksa kapal-kapal untuk bermanuver di ruang sempit antara Pulau Larak dan Pulau Qeshm, wilayah yang sangat dekat dengan jangkauan daratan Iran. Strategi ini dianggap sebagai upaya Iran untuk tetap memegang kendali penuh atas arus keluar-masuk logistik dunia sembari memitigasi risiko ranjau bawah laut.

Gencatan Senjata yang Rapuh

Padahal, optimisme sempat menyeruak ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata pada 7 April lalu. Mengutip Wall Street Journal (WSJ), pasca-pengumuman tersebut, dua kapal berbendera Yunani dan Liberia sempat berhasil melintasi selat dengan selamat pada 8 April.

Baca Juga :  Mau Liburan ke Eropa? Kenali 5 Negara Balkan yang Sudah Bergabung dengan Schengen!

Iran pun sebelumnya telah menetapkan aturan main baru melalui mediator, yakni membatasi lalu lintas hanya 12 kapal per hari dengan pengenaan biaya lintasan tertentu.

Namun, semua rencana itu kini berada di ambang ketidakpastian. Kemarahan Teheran atas bombardir Israel di Lebanon telah mengubah status Selat Hormuz menjadi wilayah “abu-abu”. Di saat kapal-kapal tanker raksasa kini hanya bisa menunggu di cakrawala, dunia kembali dihadapkan pada kenyataan pahit yaitu bahwa kesepakatan di atas kertas sering kali kalah oleh ledakan di lapangan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com