NARASITTODAY.COM, NEW DELHI – Jalur air yang berkelok dan rawa-rawa yang sulit ditembus di sepanjang perbatasan India-Bangladesh, Pemerintah India tengah mempertimbangkan sebuah strategi keamanan yang terdengar seperti adegan dalam film laga yaitu mengerahkan buaya dan ular berbisa sebagai penjaga perbatasan.
Langkah tidak lazim ini muncul sebagai respons atas kebuntuan pembangunan pagar fisik di wilayah-wilayah yang secara geografis mustahil untuk dikonstruksi. Pasukan Keamanan Perbatasan (BSF) kini tengah mendiskusikan secara internal penggunaan “hambatan biologis” untuk menutup celah-celah rawan tersebut.
Tantangan di Balik Arus Sungai
Meski India telah berinvestasi besar-besaran dalam pengamanan wilayah, sekitar 20 persen perbatasan masih terbuka lebar. Dari total 853 kilometer area yang belum dipagari, sekitar 177 kilometer di antaranya dianggap tidak cocok untuk konstruksi permanen. Jalur air yang terus berpindah dan risiko banjir yang tinggi menjadi musuh utama bagi beton dan kawat berduri.
Melansir laporan People, sebuah catatan internal tertanggal 26 Maret 2026 mengungkapkan bahwa markas besar BSF telah meminta unit lapangan untuk mengevaluasi rencana tersebut.
“Markas besar BSF meminta unit lapangan untuk menentukan apakah rencana ini layak secara operasional,” tulis laporan tersebut.
Diskusi mengenai penggunaan predator ini kabarnya telah bergulir sejak awal Februari dalam pertemuan yang dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal BSF, Praveen Kumar.
Antara Keamanan dan Risiko Ekosistem
Meskipun proposal ini menawarkan solusi bagi wilayah yang tidak bisa dipagari, para petugas di lapangan mulai menyuarakan kekhawatiran. Menjadikan alam sebagai senjata membawa risiko yang tidak terkendali. Kehadiran predator mematikan di sistem sungai yang terbuka tidak hanya mengancam penyelundup atau penyusup, tetapi juga warga sipil yang menggantungkan hidup di sekitar sungai.
Selain masalah keselamatan manusia, para pakar satwa liar turut memberikan peringatan keras. Mengonsentrasikan predator secara sengaja di satu titik tertentu dikhawatirkan akan merusak keseimbangan ekosistem lokal dan menciptakan bahaya ekologis yang tidak terduga di masa depan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














