Harga Air Minum Kemasan Galon di Jakarta Naik Akibat Gangguan Pasokan Plastik dari Konflik Timur Tengah

0
konflik di Timur Tengah
Ilustrasi Pabrik produksi air minum.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Gejolak konflik di Timur Tengah kini tidak lagi sekadar menjadi tajuk berita internasional bagi warga Jakarta, melainkan sudah menyentuh kebutuhan pokok harian. Harga Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) jenis galon di wilayah ibu kota terpantau merangkak naik sejak awal pekan ini akibat terganggunya rantai pasok bahan baku plastik dunia.

Kenaikan ini menyasar hampir seluruh merek besar, memaksa para pedagang eceran hingga ibu rumah tangga untuk merogoh kocek lebih dalam demi memenuhi kebutuhan air minum.

Gema Konflik di Lembar Tagihan

Di balik etalase galon yang tertumpuk rapi di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Alan, seorang pedagang setempat, sibuk menjelaskan perubahan harga kepada para pelanggannya. Bagi Alan, kenaikan sebesar Rp1.000 mungkin terlihat kecil, namun bagi warga yang bergantung pada air kemasan, angka tersebut cukup terasa.

Baca Juga :  Langit Timur Tengah "Terkunci", Ribuan Penerbangan Global Kandas Akibat Konflik Iran

Informasi yang ia terima dari pusat distribusi sangat jelas: konflik global telah mencekik pasokan bahan baku plastik yang menjadi komponen utama pembuatan galon.

“Iya, naik ya harganya per Senin kemarin, tanggal 27 (April). Karena ada konflik di Timur Tengah, jadi buat distribusi pasokan bahan baku plastiknya kan terganggu. Infonya gitu ya saya dari pusat, makanya ini naik Rp1.000 ya per galon,” kata Alan saat ditemui pada Selasa (28/4/2026).

Alan merinci bahwa merek-merek populer seperti Aqua dan Le Minerale yang sebelumnya dibanderol Rp22.000 kini menjadi Rp23.000. Sementara itu, merek premium seperti Pristine merosot ke angka Rp26.000 per galon.

Maklum di Tengah Krisis

Meski harga naik, belum terlihat adanya kepanikan di tingkat konsumen. Alan telah mengambil langkah proaktif dengan mengirimkan pesan siaran melalui WhatsApp kepada para langganannya agar tidak terjadi kekagetan saat transaksi.

Baca Juga :  Puncak HJB ke-544 di Malasari Dongkrak Ekonomi Warga, Homestay hingga Pedagang Kebanjiran Rezeki

“Ya nggak gimana-gimana, paling nanya kenapa naik, tapi pas sudah dijelasin karena harga bahan baku plastik naik, ya mereka maklum sih. Karena perang kan,” jelas Alan.

Kabar baiknya, meski harga bergejolak, pasokan barang terpantau masih stabil. Belum ada tanda-tanda kelangkaan atau pembatasan pembelian dari pihak distributor.

Opsi Isi Ulang Jadi Pilihan Ekonomis

Pemandangan serupa terlihat di toko milik Sera, pedagang lainnya di Jakarta. Ia mengonfirmasi bahwa tren kenaikan harga ini merata di hampir seluruh produk bermerek. Namun, di tengah badai kenaikan harga ini, galon isi ulang (depot) muncul sebagai “penyelamat” bagi mereka yang memiliki anggaran terbatas.

Sera menjelaskan bahwa kenaikan harga ini memang logis karena biaya produksi kemasan plastik di tingkat hulu yang membengkak akibat situasi geopolitik dunia.

Baca Juga :  Kisah di Balik Buku Iqro yang Hampir Semua Anak Muslim Pernah Gunakan

“Ya karena perang itu, katanya plastik naik, jadi bikin galonnya kan pakai plastik, jadi dari pabriknya sudah naik. Kalau isi ulang kan dia cuma ngisi ulang doang, dicuci doang galonnya, nggak bikin baru,” ungkap Sera.

Menurut Sera, harga galon isi ulang masih bertahan di angka Rp10.000, menjadikannya satu-satunya produk yang tidak terdampak langsung oleh kenaikan harga bahan baku plastik tersebut.

Kenaikan harga AMDK galon ini menjadi pengingat nyata betapa rapuhnya ketahanan harga kebutuhan domestik terhadap situasi keamanan global. Selama konflik di Timur Tengah belum mereda, tekanan pada sektor logistik dan bahan baku industri diperkirakan akan terus membayangi pasar dalam negeri.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com