Ketegangan Meningkat di Teluk, UEA Diduga Lakukan Serangan Rahasia Terhadap Iran

0
Teluk
Ilustrasi Rudal taktis militer .Foto : Istock

NARASITODAY.COM, KUWAIT CITYLangit di atas Teluk Persia kini tak lagi hanya menyimpan panas matahari, tetapi juga bara konflik yang siap meledak. Risiko keterlibatan langsung negara-negara Arab dalam konfrontasi militer melawan Iran dilaporkan meningkat tajam menyusul terungkapnya rangkaian operasi rahasia yang melintasi garis perbatasan kedua wilayah.

Suhu politik memanas setelah Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan melancarkan serangan balasan besar-besaran ke wilayah Iran secara senyap. Situasi ini diperuncing dengan laporan dari Kuwait yang mengklaim telah menggagalkan upaya infiltrasi empat anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang mencoba menyerang Pulau Bubiyan.

Misi Rahasia di Pulau Lavan

Laporan eksklusif The Guardian menyebutkan bahwa UEA telah menggerakkan mesin perangnya sebagai aksi balas dendam atas gempuran Iran sebelumnya. Mengutip Wall Street Journal, salah satu operasi paling berisiko terjadi di Pulau Lavan milik Iran.

Baca Juga :  Polisi Pastikan Isu Prostitusi Anak di Lokasari yang Diviralkan WNA Jepang Adalah Hoaks

Serangan tersebut dilancarkan sesaat sebelum gencatan senjata 7 April diumumkan, menempatkan Abu Dhabi dalam posisi rentan sebagai target utama Teheran jika perdamaian sementara ini runtuh.

Kerapuhan situasi ini pun diakui oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia memperingatkan bahwa keengganan Iran memberikan konsesi terkait program nuklirnya telah membuat stabilitas kawasan berada di titik nadir.

“Gencatan senjata ini hanya bergantung pada seutas benang,” tegas Trump pada Senin (11/5/2026).

Biaya Perang yang Meroket

Baca Juga :  Situasi Timur Tengah Memanas, Iran Ambil Langkah Ekstrem di Sektor Penerbangan

Di balik manuver jet tempur Mirage dan drone Wing Loong yang terdeteksi intelijen, terdapat beban finansial yang luar biasa besar. Pentagon mengungkapkan biaya operasional konflik dengan Iran telah membengkak hingga menyentuh angka US$29 miliar (sekitar Rp507,5 triliun) lonjakan sebesar US$4 miliar hanya dalam waktu dua pekan.

Meski UEA telah membentengi diri dengan sistem rudal Iron Dome kiriman Israel melalui mediasi Dubes AS Mike Huckabee, langkah militer ini justru memicu retakan di dinding solidaritas negara-negara Teluk.

Arab Saudi, raksasa kawasan yang bertetangga langsung, menyuarakan kekhawatiran mendalam. Mantan diplomat senior Saudi, Turki al-Faisal, memperingatkan bahwa terjebak dalam skenario perang besar hanya akan membawa kehancuran total bagi proyek masa depan seperti Vision 2030 dan fasilitas vital desalinasi air.

Baca Juga :  DKP Hadirkan BAGAS di Kabogorfest 2025, Jadikan Gerakan Gemar Makan Buah Sayur dan Stop Boros Pangan

“Jika rencana Israel berhasil menyulut perang antara kami dan Iran, kawasan ini akan berubah menjadi negara yang hancur lebur,” tulis al-Faisal dengan nada peringatan yang keras.

Dampak nyata konflik ini sudah terlihat pada sektor energi. Adnoc Gas, pabrik gas terbesar milik UEA, masih dalam kondisi lumpuh akibat serangan Iran sebelumnya dan diprediksi baruuarakan kecaman terhadap ekspansi Israel di kawasan tersebut.

Di tengah ketidakpastian ini, warga di sepanjang pesisir Teluk hanya bisa menunggu, apakah “utas benang” gencatan senjata itu akan bertahan atau putus menjadi sejarah kelam baru.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com