NARASITODAY.COM, JENEWA – Secercah angin segar berembus di tengah kekhawatiran publik atas laporan wabah hantavirus yang melanda sebuah kapal pesiar. Badan Kesehatan Dunia (WHO) resmi mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah mengonfirmasi satu warganya yang sebelumnya menunjukkan hasil tes tidak meyakinkan ternyata negatif dari hantavirus. Berkat pembaruan data medis ini, akumulasi kasus global yang terseret dalam pusaran wabah tersebut kini turun menjadi 10 kasus, dari yang sebelumnya dilaporkan sebanyak 11 kasus.
Pernyataan resmi ini disampaikan langsung oleh Maria Van Kerkhove selaku Direktur Departemen Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO. Ia menjelaskan bahwa laporan data sebelumnya sempat memasukkan satu pasien yang status kesehatannya masih meragukan.
“Kami telah menerima konfirmasi lebih lanjut dari Amerika Serikat bahwa orang tersebut negatif,” ujar Van Kerkhove memastikan kondisi pasien tersebut.
Jejak Horor di Atas Kapal Pesiar Mewah
Prahara kesehatan ini bermula dari kemewahan dek kapal pesiar MV Hondius yang berbendera Belanda. Kapal tersebut diketahui bertolak dari dermaga Argentina pada 1 April untuk melakukan pelayaran ekspedisi wisata menuju keindahan wilayah kutub yang dingin. Namun, perjalanan impian itu berubah menjadi mimpi buruk ketika virus mulai menjangkiti manifes kapal.
Hingga saat ini, dilaporkan ada tiga nyawa yang melayang akibat serangan virus tersebut. Ketiga korban meninggal dunia di atas air ini terdiri dari sepasang warga negara Belanda dan satu warga negara Jerman.
Guna meredam penyebaran yang lebih luas, para kru kapal, penumpang, hingga orang-orang yang sempat melakukan kontak erat kini diisolasi ketat di beberapa negara Eropa. Sementara itu, otoritas kesehatan Amerika Serikat pada Kamis menegaskan belum menemukan adanya kasus positif di teritorial mereka.
Kendati demikian, AS tidak mau kecolongan; sebanyak 41 orang kini berada dalam radar pemantauan ketat, termasuk 18 individu yang dikarantina di Nebraska dan Atlanta karena adanya potensi terpapar infeksi selama perjalanan.
Investigasi medis memastikan bahwa wabah di kapal pesiar ini melibatkan Virus Andes. Jenis ini merupakan salah satu varian hantavirus yang sangat langka sekaligus menjadi satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui memiliki kemampuan untuk menular antarmanusia, meskipun dalam skala yang sangat terbatas dan biasanya membutuhkan kontak fisik yang dekat serta dalam durasi waktu yang lama.
Meskipun terdengar mengerikan, virus ini sebenarnya bukan barang baru. Virus Andes tercatat telah bersirkulasi di kawasan Argentina dan Chili selama beberapa dekade terakhir. Hasil pengujian laboratorium terhadap sampel yang diambil dari kapal MV Hondius juga menunjukkan bahwa struktur virus tersebut tidak mengalami perubahan genetik yang berarti.
Van Kerkhove kembali menegaskan bahwa tim ahli dari WHO belum mendeteksi adanya mutasi yang berpotensi membuat virus ini menjadi lebih menular ataupun menjadi lebih mematikan. Pihak WHO juga meminta masyarakat dunia untuk tetap tenang dan menekankan bahwa karakteristik wabah hantavirus ini sama sekali tidak bisa disetarakan dengan skala COVID-19, sehingga tidak memicu ancaman pandemi global.
Secara umum, hantavirus merupakan patogen yang bersumber dari hewan pengerat (tikus). Manusia biasanya tertular akibat terpapar urine, kotoran, atau air liur tikus yang sudah terinfeksi, sementara penularan dari manusia ke manusia terbilang sebagai fenomena yang sangat langka. Jeda waktu dari saat pertama kali terpapar hingga munculnya gejala (masa inkubasi) memakan waktu yang cukup panjang, yakni berkisar antara satu sampai enam minggu.
Hingga hari ini, dunia kedokteran belum berhasil menemukan vaksin resmi maupun obat antivirus khusus yang efektif untuk menjinakkan hantavirus. Praktis, pengobatan medis yang diberikan kepada para pasien sejauh ini hanya bersifat suportif atau meringankan gejala yang muncul.
Sebagai langkah preventif, WHO merekomendasikan protokol karantina dan pemantauan selama 42 hari bagi mereka yang masuk kategori kontak berisiko tinggi. Sementara bagi kontak berisiko rendah, mereka diminta memantau kondisi tubuhnya secara mandiri dan wajib segera mencari pertolongan medis jika mulai merasakan gejala sakit.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber, Berbagai sumber














