Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Barat Jadi Pengingat Serius Krisis Iklim Global

0
PBB
Ilustrasi Bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).Foto : Istock

NARASITODAY.COM, PARISGelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor melanda sejumlah wilayah Eropa Barat sepanjang awal pekan ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa fenomena maut ini menjadi pengingat keras atas memburuknya krisis iklim global yang dipicu oleh ketergantungan akut dunia terhadap bahan bakar fosil.

Executive Secretary of the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Simon Stiell, menyatakan bahwa lonjakan suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya di Eropa merupakan dampak nyata dari aktivitas manusia yang merusak alam.

“Ilmu pengetahuan jelas menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan manusia membuat gelombang panas ini lebih sering dan ekstrem,” kata Stiell dalam sebuah pernyataan resmi, melansir AFP, Rabu (27/5/2026).

Ironi Musim Panas: Berujung Petaka di Perairan

Baca Juga :  Musisi Base Jam Merespons Kurangnya Pekerjaan Musik di Akhir Tahun 2024

Di balik data statistik suhu yang meroket, gelombang panas ini membawa duka mendalam di pemukiman warga. Suasana musim panas yang biasanya disambut gembira, kini berubah menjadi petaka ketika warga berbondong-bondong mencari pelarian dari udara yang membakar.

Otoritas Prancis pada hari Selasa melaporkan setidaknya tujuh kematian yang terkait langsung dengan gelombang panas. Tragisnya, lima di antaranya tewas karena tenggelam saat berusaha mencari kesejukan di tempat-tempat berair. Kondisi serupa terjadi di Inggris, di mana pihak berwenang mengonfirmasi empat remaja tewas tenggelam sejak hari Minggu akibat insiden serupa.

Prancis dan Inggris sama-sama mencatat hari terpanas sepanjang masa untuk bulan Mei pada hari Senin, yang kemudian terlampaui kembali pada hari Selasa. Tidak hanya kedua negara tersebut, Irlandia juga melaporkan rekor suhu tertinggi untuk bulan Mei, sementara Spanyol, Italia, dan Austria terus terpanggang dalam kondisi cuaca yang sangat tidak wajar untuk sepanjang tahun ini.

Baca Juga :  Mata Panas dan Perih? Ini 5 Akar Masalah Utama yang Jangan Kamu Anggap Sepele

Nestapa Global dari Eropa hingga India

Stiell juga menyoroti bahwa krisis ini tidak hanya memijar di Eropa. Di belahan bumi lain, tepatnya di India, situasinya jauh lebih mencekam. Pasukan penyelamat di sana harus bertaruh nyawa melawan kebakaran hutan yang meluas, di tengah laporan kematian warga akibat serangan panas (heatstroke).

Kengerian ini divalidasi oleh data platform pemantauan kualitas udara internasional, AQI. Pada siang hari Rabu, AQI mencatat bahwa 45 kota terpanas di seluruh dunia semuanya berada di India, dengan suhu rata-rata melonjak di atas 43°C.

Baca Juga :  Pria Tewas Terlindas Truk di Citeureup, Diduga Tergelincir Saat Mendahului

Stiell menegaskan, situasi kritis ini harus menjadi momentum bagi seluruh pemimpin dunia untuk melakukan perombakan kebijakan energi secara radikal.

“Melindungi nyawa manusia, bisnis, dan ekonomi dari panas ekstrem dan banyak biaya lain yang melonjak akibat perubahan iklim adalah urusan inti bagi setiap negara, dan itu dimulai dengan menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil jauh lebih cepat,” tegas Stiell.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa situasi geopolitik global saat ini kian memperumit masalah. Perang yang berkecamuk di Timur Tengah telah mengungkap “biaya yang melonjak” dari ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil, sekaligus mempertegas urgensi mendesak untuk segera beralih ke sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com