Netanyahu Perintahkan Militer Kuasai 70% Gaza, Lebarkan Garis Batas di Tengah Duka Iduladha

0
Israel
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Foto : aa.com.tr

NARASITODAY.COM, TEL AVIV – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi memerintahkan militernya untuk memperluas kendali atas Jalur Gaza hingga mencakup 70 persen wilayah kantong Palestina tersebut. Langkah agresif ini diumumkan di tengah eskalasi operasi militer yang terus meningkat, mengabaikan berbagai upaya gencatan senjata yang selama ini dimediasi oleh Amerika Serikat (AS).

Dalam sebuah konferensi yang digelar di kawasan permukiman Tepi Barat yang diduduki Israel pada Kamis, Netanyahu memaparkan bahwa pasukannya akan bergerak secara bertahap untuk memperbesar wilayah pendudukan, setelah sebelumnya mengklaim telah menguasai sekitar 50 hingga 60 persen wilayah Gaza.

“Kami berada di angka 50%, kami telah meningkatkannya menjadi 60%. Arahan saya adalah untuk terus maju. Mari kita lakukan langkah demi langkah,” kata Netanyahu seperti dikutip Reuters, Jumat (29/5/2026).

“Pertama-tama, 70%. Mari kita mulai dengan itu. Kami menekan mereka (Hamas) dari semua sisi. Kami akan menangani sisanya,” ujar Netanyahu lagi menegaskan target berikutnya.

Baca Juga :  Tiga Kakak Beradik ODGJ Dipasung, Pemdes Sipayung Bergerak dan Harap Uluran Tangan Pemerintah Pusat

Hingga saat ini, Israel dilaporkan telah mencengkeram sekitar 64 persen wilayah Jalur Gaza yang telah hancur lebur akibat perang berkepanjangan sejak 7 Oktober 2023. Berdasarkan kesepakatan yang dimediasi AS pada Oktober lalu, Israel seharusnya menarik pasukannya mundur ke “Garis Kuning” yang menjadi batas kendali. Namun, laporan Reuters mengungkapkan bahwa militer Israel secara sepihak telah menggeser blok-blok beton penanda garis tersebut lebih jauh ke dalam area yang sebelumnya dikuasai Hamas.

Netanyahu berdalih bahwa pencaplokan wilayah di Gaza, termasuk di Suriah dan Lebanon, merupakan langkah pembentukan “zona penyangga” demi mencegah serangan kelompok militan di masa depan. Sebaliknya, bagi warga Palestina, perluasan batas ini adalah taktik sistematis untuk mengusir mereka secara permanen dari tanah kelahiran mereka sendiri.

Kekhawatiran akan pengusiran massal ini kian nyata setelah pejabat senior Israel, termasuk Menteri Pertahanan Israel Katz, mulai mempromosikan agenda yang mereka sebut sebagai “migrasi sukarela” bagi warga Gaza. Skema ini langsung memicu gelombang kecaman internasional karena dinilai bakal memperparah krisis kemanusiaan yang sudah berada di titik nadir.

Baca Juga :  Rapat Pleno PPK Cianjur Kota Terusik Keributan, Proses Penghitungan Terganggu

Agresi terbaru ini digalakkan dengan dalih memburu sisa-sisa kekuatan Hamas. Pada Selasa lalu, Israel mengklaim telah melenyapkan kepala sayap bersenjata Hamas yang baru menjabat, hanya selang 10 hari setelah pembunuhan pendahulunya.

Duka di Atas Reruntuhan Iduladha

Namun, di balik target-target militer dan peta geopolitik yang digambar di atas meja sang Perdana Menteri, terdapat realitas yang mengerikan bagi warga sipil. Tepat di malam Iduladha, saat umat Muslim dunia merayakan hari raya dengan sukacita, langit Gaza justru dihujani bom. Serangan udara pada Rabu malam merenggut sedikitnya 10 nyawa termasuk lima anak-anak dan melukai 18 orang lainnya di tengah barisan tenda pengungsian.

Di antara puing-puing bangunan yang hancur, para pengungsi harus meraba kegelapan malam hanya untuk menyelamatkan diri.

Baca Juga :  Menolak Tunduk pada Bayang-bayang Perang, FIFA Pastikan Iran Tetap Berlaga di Piala Dunia 2026 AS

“Kami keluar mendengar suara ledakan. Kami duduk selama satu jam sebelum bisa keluar melalui puing-puing dan menemukan jalan keluar dari tenda,” tutur Etidal Al-Za’im, salah satu warga Gaza yang selamat dari malam jahanam tersebut.

Bagi mereka yang bertahan hidup, Gaza kini telah bermutasi menjadi sebuah penjara terbuka tanpa ruang aman. Setiap sudut ruang telah berubah menjadi potensi kuburan masal.

“Seseorang di Gaza sama sekali tidak aman. Dia bisa tertembak di jalan, di rumah, di rumah sakit, bahkan dalam perjalanan ke pasar,” keluh warga Gaza lainnya, Abu Azam, menggambarkan keputusasaan yang mendalam.

Kini, dengan perintah terbaru dari Tel Aviv untuk menguasai 70 persen wilayah, batas ruang gerak bagi jutaan warga Gaza dipastikan akan semakin menyempit, menyisakan ruang yang kian tipis antara hidup dan mati.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com