
NARASITODAY.COM, BOGOR– Sebanyak 50 relawan yang tergabung dalam komunitas pemuda berkumpul di Kampung Somang, RT 03/03 Desa Parung Panjang, Kecamatan Parungpanjang, Kabupaten Bogor, Sabtu (30/5/2026).
Dalam kegiatan bertajuk Akar Bareng Fest (ABF) 2.0, para pemuda tersebut bergotong royong bersama warga masyarakat menanam 500 pohon sekaligus menggelar ruang dialog dan edukasi lingkungan.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Neragreen Indonesia, Ground Up, dan Kelompok Tani Hutan (KTH) Semesta Tohaga. Diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, ABF 2.0 menjadi kelanjutan sukses penyelenggaraan perdana yang digelar pada Februari 2026 lalu di Kecamatan Nanggung, Bogor.
Berbeda dengan edisi sebelumnya, ABF 2.0 hadir dengan cakupan kolaborasi yang lebih luas, melibatkan lebih banyak relawan, serta menghadirkan pendekatan yang lebih mendalam antara generasi muda dan masyarakat lokal.
Neragreen Indonesia sebagai penggagas merupakan komunitas yang digerakkan oleh kaum muda di bawah inisiasi Alwiyansyah, berfokus pada aksi nyata berbasis komunitas dan pendidikan berkelanjutan. Sementara itu, Ground Up adalah komunitas yang dibentuk oleh pelajar Anglo-Chinese School (ACS) Jakarta yang memiliki fokus pada pengolahan limbah ampas kopi menjadi pupuk organik melalui ekonomi sirkular. Di sisi lain, KTH Semesta Tohaga bertindak sebagai mitra lokal yang berperan penting dalam pendampingan lapangan serta penguatan konservasi berbasis masyarakat.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi dengan penyambutan hangat dari warga setempat yang menyajikan aneka pangan lokal. Acara resmi dibuka dengan sambutan dari perwakilan Ground Up, Pemerintah Desa Parung Panjang, dan tim Neragreen Indonesia.
Sebelum turun ke lokasi penanaman, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti sesi senam bersama, yang telah menjadi tradisi dalam setiap program Neragreen. Kemudian, peserta mendapatkan pembekalan teknis mengenai cara penanaman pohon yang tepat serta pemahaman mengenai urgensi rehabilitasi lahan.
Sekretaris Jenderal Neragreen, Fadhila, dalam sambutannya berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi seremonial sesaat.
“Semoga teman-teman memperoleh pengalaman, menjadikan kegiatan ini sebagai wadah untuk membangun relasi baru dan berkolaborasi, serta menebar manfaat yang lebih luas melalui setiap aksi yang dilakukan hari ini,” ujar Fadhila.
Usai pembekalan, para relawan dan warga langsung bergerak menuju lokasi penanaman. Bersama-sama, mereka menggali lubang, menanam, dan menyiram sebanyak 500 pohon yang terdiri dari jenis pohon konservasi maupun pohon produktif. Aksi ini menjadi bukti nyata kepedulian terhadap pemulihan lingkungan.
Setelah kegiatan fisik selesai, rangkaian acara dilanjutkan dengan makan siang bersama yang menyajikan hidangan khas Parung Panjang. Suasana kekeluargaan semakin terasa erat sebelum kemudian masuk ke sesi audiensi dan dialog warga yang dipandu oleh Kang Bram Suryadi.
Dalam diskusi tersebut, warga menyampaikan sejumlah persoalan lingkungan yang dirasakan sehari-hari. Masalah utama yang disorot adalah perilaku membuang sampah sembarangan di pinggir jalan desa oleh pihak yang tidak diketahui. Kondisi ini dinilai sangat mengganggu kenyamanan serta mengancam kebersihan lingkungan.
“Banyak orang membuang sampah sembarangan di pinggir jalan. Kami tidak tahu siapa yang membuang, tetapi itu mengganggu kenyamanan warga,” ungkap salah satu warga dalam diskusi.
Selain masalah sampah, masyarakat juga merasakan dampak nyata dari perubahan iklim. Suhu udara yang semakin terasa panas dan berkurangnya tutupan vegetasi menjadi keluhan umum. Hal ini disampaikan langsung oleh Kang Juna dari KTH Semesta Tohaga yang telah puluhan tahun mengelola kawasan tersebut.
“Dulu ketika saya dan istri pertama kali datang ke sini suasananya masih hutan, adem. Sekarang, wah panas sekali,” kenang Kang Juna.
Warga juga menyampaikan harapan agar kegiatan penghijauan seperti ini tidak hanya terpusat di satu lokasi, namun dapat meluas hingga ke lahan-lahan milik warga lainnya agar manfaatnya bisa dirasakan secara merata.
Merespons isu-isu tersebut, panitia menghadirkan sesi workshop lingkungan. Dipandu oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Pak Amos, didampingi Kang Juna dan Pak Rudi, peserta diajarkan solusi praktis. Materi meliputi cara pengelolaan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk, hingga pemanfaatan sumber daya alam lokal dengan metode sederhana.
Pak Amos menekankan pentingnya berpikir jangka panjang dalam setiap tindakan.
“Setiap aksi yang dilakukan juga perlu mempertimbangkan dampaknya ke depan,” pesan Pak Amos.
Tak hanya berfokus pada kegiatan di lapangan, para relawan juga turut membuat konten edukasi dan kampanye lingkungan untuk disebarluaskan melalui media digital. Hal ini dilakukan untuk memperluas jangkauan pesan pelestarian alam kepada masyarakat luas.
Sebagai penutup acara, seluruh peserta berkumpul untuk melakukan pembacaan Janji Lingkungan. Tradisi yang bermula dari program Youth for Earth 2025 ini menjadi simbol komitmen bersama untuk terus menjaga alam dan berkolaborasi demi lingkungan yang lebih baik.
Melalui kegiatan ini, ABF 2.0 mencatatkan sejumlah capaian strategis, antara lain tertanamnya 500 pohon, terlibatnya 50 relawan aktif, terjalinnya dialog lintas generasi, serta terbangunnya jejaring kolaborasi yang kuat antara komunitas pemuda, kelompok tani, dan masyarakat desa.
Neragreen Indonesia, Ground Up, dan KTH Semesta Tohaga berharap gerakan ini tidak berhenti sampai di sini. Penanaman pohon ini diharapkan menjadi awal langkah berkelanjutan yang terus tumbuh dan menyebar ke berbagai wilayah, memberikan manfaat jangka panjang bagi alam dan generasi mendatang.
Wartawan : Suryadi













