Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio Tegaskan Sanksi Iran Tidak Dihapus Tanpa Syarat

0
Marco Rubio
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.Foto: vietnam.vn

NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Ruang sidang Senat Amerika Serikat di Bukit Capitol mendadak riuh. Untuk pertama kalinya sejak genderang perang dengan Iran ditabuh, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berdiri di bawah sorotan lampu ruang sidang untuk memberikan kesaksian terbuka.

Di hadapan mantan koleganya sesama anggota parlemen, Rubio membawa misi berat yaitu ia harus membela strategi geopolitik Presiden Donald Trump yang kian menuai skeptisisme, bahkan dari internal partai penyokongnya sendiri.

Dalam kesaksian yang berlangsung maraton tersebut, Rubio menegaskan posisi keras Washington. Ia membantah rumor bahwa tim negosiasi Trump telah menawarkan pelonggaran sanksi ekonomi secara cuma-cuma kepada Teheran demi membuka kembali jalur perdagangan vital di Selat Hormuz.

Bagi Gedung Putih, tidak ada makan siang gratis untuk Iran yaitu setiap lembar sanksi yang dicabut harus dibayar dengan kepatuhan mutlak terkait penghentian program nuklir mereka.

“Saat ini, semua yang telah dibahas dengan mereka (Iran) adalah bahwa… setiap pencabutan sanksi didasarkan pada syarat, yang berarti harus sebagai imbalan atas alasan mengapa sanksi tersebut diberlakukan sejak awal, yaitu program nuklir mereka,” kata Rubio dalam sidang Senat, seperti dilansir Reuters, Rabu (3/6/2026).

Nuklir Sebagai Harga Mati

Di bawah tatapan tajam para senator, Rubio yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional Trump ini menguraikan bahwa akar masalah dari konflik berdarah ini adalah pengayaan uranium oleh Teheran. Oleh karena itu, pintu damai hanya akan terbuka jika Iran bersedia melucuti ambisi hulu nuklirnya.

Baca Juga :  Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran Setelah Permintaan Pemimpin Regional

Iran dikenai sanksi karena mereka memiliki uranium yang diperkaya tinggi. Iran dikenai sanksi karena aktivitas nuklir mereka. Jika mereka setuju untuk menghentikan hal-hal tersebut, akan ada pencabutan sanksi yang terkait dengan komitmen dan kepatuhan mereka terhadap perjanjian tersebut,” papar mantan Senator asal Florida tersebut.

Sidang yang berlangsung pada Selasa pagi ini merupakan awal dari rangkaian empat sidang krusial minggu ini. Kongres tengah mencecar Rubio terkait proposal anggaran kontroversial pemerintahan Trump, yang nekat memangkas anggaran urusan luar negeri sebesar 30% menjadi $36 miliar, namun di saat bersamaan menggelembungkan anggaran militer hingga 50% menjadi $1,5 triliun. Angka fantastis ini diajukan justru di saat sekutu-sekutu Republik mulai didera kecemasan mendalam atas konflik Iran yang kini memasuki bulan keempat.

Ketegangan sempat memuncak ketika Rubio melontarkan klaim sepihak. “Perang sudah berakhir,” cetusnya di tengah adu argumen yang sengit dengan Senator Demokrat Cory Booker dari New Jersey, yang langsung menolak mentah-mentah klaim tersebut.

Tudingan Menghindari Kongres

Kritik pedas juga datang dari Senator Jeanne Shaheen, perwakilan Demokrat terkemuka di Komite Hubungan Luar Negeri. Shaheen menilai pemerintahan Trump terlalu menutup diri dan menyembunyikan cetak biru penyelesaian konflik dari publik Amerika yang mulai tercekik oleh lonjakan biaya hidup akibat perang.

“Ketika saya berbicara dengan warga negara saya, mereka meminta ‘bantuan ekonomi di dalam negeri, bukan perubahan rezim di Havana atau Caracas atau Teheran’,” sindir Shaheen tajam.

Baca Juga :  Dugaan Korupsi Gula, Thomas Trikasih Lembong Tetap Banding Walau Hanya Dihukum Sehari

“Sebaliknya, Anda mengirimkan pemberitahuan kekuatan perang kepada Kongres yang menyatakan bahwa kita tidak dalam permusuhan aktif dengan Iran, sementara AS melakukan serangan terhadap Iran, dan Iran membom kedutaan dan pangkalan AS di seluruh Timur Tengah. Itu bukan konsultasi, itu adalah upaya untuk menghindari menjawab kepada komite ini dan Kongres ini tentang perang ini,” cecar Shaheen.

Selain masalah Timur Tengah, dalam sidang tersebut Rubio juga harus jatuh bangun membela kebijakan intervensi AS di Venezuela. Meski pasukan AS berhasil menggulingkan Presiden Nicolas Maduro pada Januari lalu, struktur rezim lama dinilai masih kokoh bertumpu di bawah kendali Wakil Presiden Delcy Rodriguez. Rubio berdalih, situasi di Caracas saat ini belum memungkinkan untuk menggelar pemilu yang bebas dan adil.

Pertaruhan Kursi Parlemen dan Bayang-Bayang Perisai Iran

Di dalam negeri, kecemasan domestik kian nyata menjelang pemilu November mendatang. Kubu Republik sangat berharap Trump dapat segera menjinakkan krisis, membuka kembali blokade Selat Hormuz, dan menurunkan harga bensin yang melambung sebelum pemilih menghukum mereka di bilik suara. Namun di sisi lain, Trump juga tersandera oleh kelompok garis keras anti-Iran di partainya sendiri yang mengharamkan konsesi apa pun untuk Teheran.

Trump tetap bergeming dengan keyakinannya bahwa perang yang dimulai dengan serangan mendadak AS-Israel pada 28 Februari lalu adalah langkah perlu demi mencegah faksi paramiliter Iran menggenggam bom nuklir.

Baca Juga :  Pakistan Tawarkan Diri Jadi Jembatan Damai AS-Iran, Awan Gelap Perang Mengancam Kian Tebal

Di meja perundingan, Iran sejatinya menuntut kesepakatan temporer agar dapat mencairkan miliaran dolar dari pendapatan minyak mereka yang dibekukan. Namun, alih-alih melunak, Washington justru terus mengobral sanksi baru terhadap entitas Iran.

Rubio sendiri enggan mematok tanggal pasti kapan kesepakatan damai akan tercapai. Ia menganalisis bahwa Teheran sengaja memperkuat persenjataan konvensionalnya sebagai taktik pertahanan.

“Apa yang mereka coba lakukan adalah mereka akan mencoba membangun perisai konvensional dan bersembunyi di balik perisai konvensional itu,” urai Rubio menjelaskan alasan di balik keputusan Trump melancarkan perang.

Di balik tirai diplomasi yang buram, Rubio mengungkapkan adanya “indikasi” bahwa Ayatollah Mojtaba Khamenei yang naik takhta menjadi Pemimpin Tertinggi Iran setelah ayahnya tewas di hari pertama perang mulai turun tangan langsung dalam negosiasi rahasia. Sosok Mojtaba sendiri hingga kini belum pernah menampakkan batang hidungnya di depan publik sejak terluka dalam serangan udara tersebut.

Kini, bola panas berada di tangan Kongres. Bulan lalu, Senat telah meloloskan resolusi kekuasaan perang yang bisa menghentikan paksa pendanaan konflik Iran jika Trump tidak mengantongi izin resmi dari parlemen. Langkah serupa di DPR sempat tertunda secara misterius saat faksi-faksi politik di Washington mulai menghitung ulang harga yang harus dibayar dari sebuah perang yang tak kunjung usai.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com