Rupiah Mengalami Pelemahan, Sentimen Global dan Penguatan Dolar AS Jadi Faktor Utama

0
rupiah
Ilustrasi Uang Indonesia.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (24/6/2026) pagi. Mata uang Garuda dibuka melemah 103 poin atau 0,58 persen ke posisi Rp17.962 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang masih mendominasi pasar keuangan global. Ketidakpastian arah suku bunga dan meningkatnya sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko membuat mata uang negara berkembang menghadapi tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang menunjukkan tren yang beragam. Yuan China tercatat menguat 0,03 persen terhadap dolar AS. Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,34 persen, sementara ringgit Malaysia terdepresiasi 0,07 persen.

Baca Juga :  Indonesia Bidik Posisi Strategis Industri Semikonduktor Global Lewat ISS 2026

Dolar Singapura juga mengalami pelemahan tipis sebesar 0,03 persen, diikuti yen Jepang yang turun 0,01 persen dan won Korea Selatan yang terkoreksi 0,11 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong bergerak relatif stabil.

Kondisi serupa terlihat di kelompok mata uang utama negara maju. Dolar Kanada menguat 0,02 persen terhadap dolar AS, sedangkan euro melemah 0,05 persen. Poundsterling Inggris dan franc Swiss masing-masing terkoreksi 0,01 persen. Adapun dolar Australia tercatat bergerak stabil.

Pergerakan tersebut mencerminkan masih kuatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Investor cenderung menempatkan dana pada instrumen yang dianggap lebih aman ketika risiko pasar meningkat.

Baca Juga :  IMF Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut selama sentimen penghindaran risiko atau risk off mendominasi pasar global.

Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah sentimen risk off global yang kuat oleh kekhawatiran tingkat suku bunga tinggi. Namun, kabar baik dari MSCI yang masih mempertahankan status emerging market (EM) pasar ekuitas Indonesia bisa sedikit banyak mendukung rupiah,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Menurutnya, keputusan MSCI yang tetap mempertahankan status pasar berkembang bagi pasar saham Indonesia menjadi salah satu sentimen positif yang dapat membantu menjaga kepercayaan investor terhadap aset domestik.

Baca Juga :  Lihat dari Sikap Sehari-hari, Ini 5 Tanda Pasanganmu Siap Naik ke Pelaminan

Meski demikian, faktor eksternal dinilai masih menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Ekspektasi suku bunga global yang tetap tinggi membuat aliran modal cenderung bergerak ke aset-aset berbasis dolar AS.

Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Bagi pelaku pasar, pergerakan rupiah saat ini menjadi cerminan dari dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Di tengah tekanan eksternal yang belum mereda, pasar domestik masih berharap sentimen positif dari dalam negeri dapat membantu menjaga stabilitas mata uang nasional dalam beberapa waktu ke depan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com