
NARASITODAY.COM, JAKARTA – Federasi Bola Voli Internasional (FIVB) mengumumkan pencabutan sanksi terhadap atlet dan ofisial Rusia setelah rekomendasi dari Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada Rabu (8/7/2026) waktu setempat. Keputusan ini membuat posisi peringkat tim nasional (timnas) Rusia dikembalikan ke posisi ketiga dalam ranking dunia, dengan total 352,10 poin.
Pengumuman ini menjadi kabar yang mengejutkan bagi komunitas voli global, termasuk Indonesia, yang merasakan dampaknya secara langsung. Setelah pencabutan sanksi, posisi timnas Rusia kembali ke posisi semula sebelum hukuman dikenakan, sementara tim voli putri Rusia tetap berada di peringkat kesembilan dunia.
Dalam pernyataan resmi, FIVB menyatakan bahwa langkah ini mencerminkan komitmen mereka untuk melindungi hak atlet tanpa memandang kewarganegaraan. “Pendekatan ini mencerminkan komitmen FIVB untuk melindungi hak mendasar atlet untuk mengakses olahraga tanpa memandang kewarganegaraan mereka,” demikian pernyataan pers FIVB.
Meski demikian, federasi tersebut juga menyampaikan keprihatinan terkait situasi di Ukraina.
“FIVB tetap sangat prihatin tentang perang yang sedang berlangsung di Ukraina dan sangat mengutuk semua bentuk kekerasan. Kami terus berharap untuk penyelesaian damai sesegera mungkin dan tetap berkomitmen mendukung komunitas bola voli Ukraina melalui program Pemberdayaan Bola Voli FIVB,” tambah pernyataan itu.
Dampak langsung dari keputusan ini dirasakan oleh timnas voli Indonesia. Setelah meraih prestasi sebagai juara AVC Men’s Cup 2026, posisi peringkat Indonesia mengalami penurunan satu tingkat.
Saat ini, timnas voli pria Indonesia berada di posisi ke-44 dalam ranking dunia dengan 101,75 poin. Sementara itu, timnas voli putri Indonesia menempati posisi ke-58 dengan koleksi 62,43 poin.
Perubahan peringkat ini menunjukkan betapa dinamisnya pengaruh kebijakan internasional terhadap posisi tim nasional di kancah dunia. Kembalinya Rusia ke posisi teratas juga memicu perdebatan mengenai masa depan regulasi dan kebijakan terkait partisipasi atlet dari negara yang sedang mengalami konflik.
FIVB mengungkapkan bahwa mereka masih akan membahas soal penggunaan bendera, lagu kebangsaan, dan simbol negara Rusia di kompetisi resmi. Mereka berencana melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan organisasi internasional terkait, seperti dilaporkan Anadolu, untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Kebijakan ini menjadi sorotan karena menyentuh aspek hak asasi dan politik dalam dunia olahraga, sekaligus menunjukkan bahwa olahraga tetap menjadi arena yang kompleks di tengah ketegangan geopolitik yang berlangsung di berbagai belahan dunia.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id












