Gempa Sukabumi Dipicu Sesar Lokal, Kondisi Gunung Salak Tetap Normal

0

NARASITODAY.COM – Peristiwa gempa bumi dengan kekuatan 3.3 magnitudo yang terjadi pada Kamis (9/5/2024) kemarin sekitar pukul 15.15 WIB di Sukabumi, dipicu oleh aktivitas sesar lokal.

Kepala Stasiun Geofisika Sukabumi, Agung Saptaji menjelaskan, berdasar pengamatan/monitoring menggunakan peralatan BMKG, pasca gempa bumi tersebut tidak ada gempa susulan.

BMKG Stasiun Geofisika Sukabumi akan terus melakukan monitoring kegempaan di daerah tersebut. Dan untuk dampak dari gempa, lanjutnya, hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan.

Baca Juga :  Ketua DPRD Rudy Susmanto Minta KONI Beri Reward Pelatih Berprestasi

“Hasil analisis awal, gempa ini terjadi karena aktivitas sesar lokal yang berada di sekitar pusat gempa,” ungkap Agung Saptaji, Jum’at (10/5/2024).

Sementara Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Salak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Yuda Pratama menegaskan, gempa bumi yang terjadi, bukan berasal dari aktivitas Gunung Salak.

Baca Juga :  Miliki Kerawanan Bencana Tertinggi di Jawa Barat, Kabupaten Bogor Diminta Siaga Jelang Pencoblosan 14 Febuari

Gempa di Sukabumi merupakan gempa tektonik jauh dan bukan dari aktivitas Gunung Salak. Saat ini aktivitas Gunung Salak dalam level normal,” tegas Yuda, sapaan akrabnya.

Ia menambahkan, kondisi di sekitar Gunung Salak yang memiliki ketinggian 2.211 mdpl tersebut, cerah dan berawan. Angin bertiup lemah ke arah selatan dan suhu udara berkisar antara 22 hingga 29 derajat Celcius. Gunung terlihat jelas dan asap kawah terpantau nihil.

Baca Juga :  Seorang Pelajar SMP di Bogor Jadi Korban Penganiayaan Aksi Tawuran, Polisi Kejar Pelaku 

Meskipun begitu, PVMBG menghimbau masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak memasuki kawah dalam radius 500 meter dari kawah-kawah yang aktif di Gunung Salak (Kawah Ratu, Kawah Hirup dan Kawah Paeh).

“Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berlama-lama di kawah-kawah G. Salak serta di lokasi – lokasi embusan gas untuk mewaspadai potensi gas beracun,” tukas Yuda Pratama.***