Kesenjangan Sosial dan Ekonomi Perparah Rendahnya Budaya Literasi di Indonesia

0
Ilustrasi membaca buku

NARASITODAY.COM – Di negeri yang membentang dari Sabang hingga Merauke, tidak semua anak memiliki kemewahan untuk mengenal cerita lewat buku. Di balik semangat mereka menimba ilmu, ada kenyataan pahit: kesenjangan sosial dan ekonomi masih menjadi tembok tinggi yang menghalangi tumbuhnya budaya literasi, terutama di daerah-daerah tertinggal.

Di banyak wilayah terpencil, akses terhadap bahan bacaan masih sangat minim. Berdasarkan data terbaru, sekitar 60% anak dari keluarga berpenghasilan rendah kesulitan mendapatkan buku bacaan yang layak. Bagi mereka, kehadiran buku bukan sesuatu yang bisa ditemui setiap hari, apalagi dimiliki.

Baca Juga :  Membangun Kebiasaan Membaca: Tips untuk Pembaca Sibuk di Era Digital

Lebih jauh, 1 dari 3 sekolah di daerah pelosok Indonesia atau setara dengan hampir 33% sekolah tidak memiliki perpustakaan atau ruang baca yang memadai. Anak-anak belajar di ruang kelas sederhana, tanpa rak-rak buku yang bisa membuka jendela pengetahuan mereka.

Sementara itu, hanya 20% rumah tangga berpenghasilan rendah yang mampu membeli buku atau menyediakan koneksi internet di rumah. Di tengah tuntutan dunia digital, angka ini menunjukkan betapa akses terhadap informasi dan literasi masih menjadi kemewahan bagi sebagian besar keluarga kurang mampu.

Baca Juga :  Memantau Anak di Sekolah? Gunakan 5 Cara Ini Agar Tetap Nyaman

Faktor pendidikan orang tua juga memainkan peran penting. Sebuah temuan menunjukkan bahwa 70% anak dari keluarga dengan tingkat pendidikan orang tua yang rendah tidak memiliki kebiasaan membaca di rumah. Buku menjadi benda asing, bukan bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Dampak dari semua ini sangat nyata. Anak-anak yang tumbuh di wilayah tertinggal memiliki tingkat kemampuan literasi dua kali lebih rendah dibandingkan anak-anak di perkotaan. Ketimpangan ini perlahan memperlebar jurang pengetahuan, mempersempit kesempatan, dan membatasi masa depan.

Baca Juga :  Sukabumi Diguncang Gempa Magnitudo 5,4 di Keheningan Dini Hari

Literasi bukan sekadar soal bisa membaca. Ia adalah fondasi berpikir, memahami dunia, dan mengambil keputusan. Jika akses terhadap literasi hanya dimiliki segelintir kelompok, maka kita sedang membiarkan generasi yang lain tumbuh tanpa fondasi yang kokoh.***