Belum Ada Respon AS atas Tuduhan Peretasan Pusat Layanan Waktu China

0
China
Ilustrasi Bendera Tiongkok dan AS . Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BEIJING — Pemerintah China menuding Amerika Serikat telah melakukan aksi peretasan terhadap Pusat Layanan Waktu Nasional, yang berpotensi mengancam stabilitas infrastruktur penting negara tersebut. Menurut otoritas China, pelanggaran ini dapat berdampak serius terhadap sistem komunikasi, keuangan, pasokan listrik, hingga waktu standar internasional.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui akun resmi WeChat, Kementerian Keamanan Negara China menyebut bahwa Badan Keamanan Nasional AS telah menjalankan operasi siber jangka panjang terhadap lembaga tersebut.

Baca Juga :  Harga Listrik Aman, Pemerintah Pastikan Tarif PLN Tetap Selama 2025

“Badan Keamanan Nasional AS telah melakukan operasi serangan siber di Pusat Layanan Waktu Nasional dalam jangka waktu yang Panjang,” demikian dikutip dari Reuters, Minggu (19/10/2025).

Kementerian mengungkapkan bahwa pihaknya telah menemukan bukti pencurian data dan kredensial sejak tahun 2022, yang digunakan untuk memata-matai perangkat seluler serta sistem jaringan milik staf pusat tersebut.

Selain itu, intelijen AS disebut telah memanfaatkan celah keamanan dalam layanan pesan dari merek ponsel pintar asing untuk mengakses perangkat staf, meski tidak disebutkan merek yang dimaksud.

Baca Juga :  Ilmuwan dan Ulama Bersinergi dalam Sidang Isbat Penetapan Idul Adha 2025

Pusat waktu nasional sendiri merupakan institusi riset di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China, yang bertugas menghasilkan, menjaga, dan menyebarkan waktu standar nasional.

Temuan lain dari investigasi kementerian menunjukkan bahwa AS juga melancarkan serangan terhadap sistem jaringan internal pusat tersebut, serta mencoba mengganggu sistem pengaturan waktu berbasis darat berpresisi tinggi pada tahun 2023 dan 2024.

Baca Juga :  Gempar!! Bayi Terbungkus Ari Ari Ditemukan di Pinggiran Rumah Warga

Hingga berita ini diturunkan, Kedutaan Besar AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Ketegangan antara China dan AS terkait tuduhan serangan siber semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dengan kedua negara saling menyebut satu sama lain sebagai ancaman utama di dunia maya.

Tuduhan terbaru ini muncul di tengah memanasnya hubungan perdagangan, menyusul kebijakan ekspor tanah jarang dari China dan ancaman AS untuk menaikkan tarif terhadap produk-produk asal China.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber