NARASITODAY.COM, JAKARTA – Lebih dari dua dekade lalu, Edward W. Said—pemikir terkenal lewat bukunya Orientalism—pernah menggugat keras gagasan “benturan peradaban” yang diperkenalkan Samuel P. Huntington. Menurut Said, konflik global bukanlah pertarungan antara budaya Barat dan Islam, melainkan sekadar “benturan kedunguan”: rangkaian prasangka, bias sejarah, dan cara pandang yang menumpulkan rasa kemanusiaan.
Kini, situasi Gaza kembali menyorot tajam kritik tersebut. Serangan brutal, penghancuran fasilitas sipil, serta kelaparan yang terjadi secara sistematis di wilayah itu memperlihatkan bagaimana narasi keamanan dan retorika geopolitik sering kali menutupi realitas kolonialisme modern.
Perubahan Sikap Dunia Barat
Selama bertahun-tahun, banyak pemerintah Barat memosisikan Israel sebagai simbol demokrasi di Timur Tengah, sementara Palestina dilihat melalui kacamata keamanan semata. Namun semakin masifnya dampak kemanusiaan di Gaza membuat publik Barat—terutama generasi muda—meninjau ulang pandangan tersebut.
Demonstrasi pro-Palestina terbesar dalam sejarah modern muncul di kota-kota besar seperti London, New York, Berlin, hingga Melbourne. Survei Pew Research 2024 juga menunjukkan penurunan signifikan dukungan generasi muda Amerika terhadap kebijakan militer Israel.
Beberapa negara Eropa, termasuk Spanyol, Irlandia, dan Norwegia, mulai mengambil sikap lebih tegas. Perancis dan Inggris pun menunjukkan tanda-tanda perubahan arah dengan mulai mengakui negara Palestina.
Kritik dari Komunitas Yahudi Sendiri
Tak sedikit suara dari dalam komunitas Yahudi—baik di Amerika maupun Israel—yang ikut mengkritik tindakan Israel di Gaza. Beberapa kelompok hak asasi manusia di Israel bahkan dengan tegas menyebut sistem yang diberlakukan terhadap warga Palestina sebagai bentuk apartheid.
Para intelektual Yahudi seperti Norman Finkelstein, Ilan Pappé, dan Noam Chomsky juga menilai bahwa kebijakan Israel telah melukai nilai-nilai moral yang seharusnya dijunjung tinggi.
Bukan Benturan Agama, tetapi Masalah Struktur Kekuasaan
Tulisan dalam kolom ini menegaskan bahwa konflik Israel-Palestina tidak bisa lagi dibaca sebagai pertentangan budaya atau agama. Masalah yang sebenarnya jauh lebih dalam: struktur kekuasaan kolonial yang terbentuk sejak awal abad ke-20 dan terus dipertahankan hingga kini.
Selama ketidakadilan tersebut masih berdiri, “benturan kedunguan” yang pernah dikritik Edward Said akan terus berulang. Garis pemisahnya bukan lagi Barat vs Timur atau Kristen vs Islam, tetapi antara mereka yang memilih mempertahankan ketidakadilan dan mereka yang berani membela kemanusiaan. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detik.com














