PHK Massal Mengintai! Industri Tekstil Nasional di Ujung Tanduk

0
rupiah
Ilustrasi pabrik Tekstil. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA Industri tekstil nasional berpotensi menghadapi tantangan yang sangat berat pada tahun 2026. Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) mengungkapkan setidaknya enam perusahaan besar di sektor ini berada dalam posisi terancam gulung tikar, yang akan diikuti oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Ancaman ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal APSyFI, Farhan Aqil Syauqi. Meskipun ia mengonfirmasi adanya enam perusahaan yang terancam tutup, Farhan menyatakan bahwa asosiasi memilih untuk tidak merilis detail perusahaan tersebut ke publik.

Baca Juga :  Tito Karnavian Dorong Pemda Perkuat Literasi Keuangan Digital untuk Genjot PAD dan Cegah Kebocoran Anggaran

“Enam perusahaan sedang terancam,” ungkapnya.

Farhan menuturkan, APSyFI siap melaporkan data detail perusahaan yang berpotensi melakukan PHK tersebut langsung kepada pemerintah. Langkah ini diambil agar solusi bersama dapat segera dicarikan sebelum penutupan benar-benar terjadi.

“Saat ini, kami hanya ingin menyampaikan (data perusahaan) yang sedang terancam tersebut melalui pemerintah, supaya solusinya bisa segera dibahas,” kata Farhan kepada CNBC Indonesia, Jumat (5/12/2025).

Baca Juga :  Walmart Rencanakan PHK dan Restrukturisasi Besar-besaran untuk Perkuat Divisi Teknologi dan AI

Di balik ancaman penutupan tersebut, Farhan menekankan bahwa persoalan krusial yang kini dihadapi oleh pelaku industri adalah ketidakpastian alokasi kuota impor untuk tahun depan. Menurutnya, tanpa adanya transparansi yang jelas mengenai kuota impor, perusahaan-perusahaan tekstil kesulitan menyusun rencana produksi jangka panjang, yang pada akhirnya meningkatkan risiko penutupan pabrik.

Pengusaha membutuhkan kepastian pasar untuk dapat menjaga operasional pabrik, terutama bagi yang sudah berada di ambang kesulitan finansial.

Baca Juga :  Gelombang PHK Meningkat, Indonesia Catat 79.302 Pengangguran Hingga November 2025

“Yang kami butuhkan saat ini ialah transparansi kuota impor yang diberikan di tahun depan. Hal ini kami minta agar kami bisa merencanakan berapa banyak yang bisa kami produksi, sehingga pabrik yang di ambang tutup dapat kepastian pasar,” tegas Farhan.

Farhan berharap permintaan ini dapat dipertimbangkan serius oleh pemerintah sebagai upaya vital asosiasi dalam mempertahankan eksistensi Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional di tengah persaingan pasar yang ketat.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com